Pada jaman dahulu anak
tunarungu dan anak terbelakang mental (tunamental) sulit di bedakan, karena
kedua–duanya sulit di ajak bicara. Orang yang mengajar murid tuli (tunarungu berat)
yang pertama adalah Pedro Ponce Deleon. Dia seorang biarawan di St. Bendedict
(Spanyol, 1520–1584 Masehi).
Dialah yang melopori
pendidikan anak tunarungu dengan mendidik anak tunarungu keturunan bangsawan
pada abad XVI (16), ia membuktikan bahwa anak tuna rungu dapat diajari bicara
dan menulis. Alfabet pertama lahir pada tahun 1620 atas usaha Plablo Bonet.
Oleh Bonet dijelaskan bahwa dalam pengajarannya juga terdapat pelajaran
Artikulasi seperti apa yang diberikan di Indonesia sekarang ini. Selajutnya
Alfabet dari Plablo Bonet tersebut berupa abjad yang terdiri dari isyarat tangan.
Kemudian dilanjutkan oleh Jacob Rodrigues Pereier dengan mengembangkan bahasa
isyarat dengan mempergunakan tangan. Selain itu juga dikembangkan metode lain
yang disebut metode bibir atau metode oral.
Pada abad XVII (17)
John Bulwere dan John Wallis di Inggris memulai pendidikan dan pengajaran anak
tunarungu dengan metode isyarat, sedangkan di negeri Belanda dirintis oleh John
Amman (1692). Dalam pembelajaran bahasa ia menulis antara lain jika
murid-muridnya mulai membaca dan dapat mengerti maksudnya, dia memperlakukan
mereka seperti anak yang baru lahir, yang sama sekali belum mengetahui apa-apa,
mula-mula dia ajarkan nama-nama benda yang mereka kenal dan perlu sedikit demi
sedikit sesudah dia tunjukkan dengan isyarat dimana dia rasakan betul.
Kemudian abad ke XVIII
(18) muncullah seorang Paderi di Paris, Abbede L’eppee (1712 – 1789) nama
lengkapnya Abbe Charles Michel De L’eppee (Perancis). Dia membuka sekolah
pertama untuk orang tuli pada tahun 1775 . selanjutnya ia mengatakan bahwa
bahasa isyarat adalah bahasa pembawaan anak tunarungu sejak lahir, mengajarkan
bercakap terlalu banyak membuang waktu atau menghabiskan waktu, maka dari itu
waktu dipergunakan untuk lebih memajukan perkembangan kecerdasan murid-muridnya
dengan bahasa isyarat. Metode isyarat yang dikembangkan oleh Abbe De L’eppee di
Perancis tersebut mencoba semua pengertian diisyaratkan dari semua isyarat itu,
di coba digambarkan menjadi tanda-tanda gambar, sehingga isyarat yang sederhana
saja sudah membutuhkan 3000 hingga 4000 buah tanda gambar. Maka timbulah abjad
jari (Fingue Alphabet) yang mula mula menggunakan dua tangan kemudian
disederhanakan menjadi abjad jari satu tangan, sehingga dia terkenal dengan
sebutan tokoh metode isyarat (alican Perancis atau manualisme).
Selanjutnya bersamaan dengan
periode itu Samuel Heinicke di Jerman mengembangkan metode oral, mulai itulah
terjadi liran Jerman (aliran oralisme). Metode ini bertitik tolak dari
pandangan bahwa anak tuli (anak tunarungu berat) memiliki potensial untuk berbicara dan dapat
diajak bicara dengan baik. Pandangan ini didukung adanya kebutuhan anak tuli
(anak tunarungu berat) untuk :
1.
Diakui sebagai anggota masyarakat
seperti halnya anak-anak normal.
2.
Mendapat kesempatan pribadi (memperoleh
pengakuan harga diri).
3.
Menyesuaikan diri dalam sosial dari
vocational.
Keuntungan
metode oral bagi anak tuli (tunarungu)
adalah sebagai berikut:
a. Dengan
latihan berbicara akan memberikan penjelasan yang lebih mudah ke dunia
sekitarnya, sehingga memperoleh penyesuaian dan sekaligus menghindarkan anak tuli
(tunarungu) dari perasaan terisolir dan tekanan batin.
b. Bicara
merupakan media komunikasi bersifat universal.
c. Pergaulan
anak tuli (tunarungu) tidak terbatas pada dunia anak tuli (tunarungu) yang
berisyarat saja.
d. Anak
normal pun akan lebih mudah bergaul dengan anak tuli (tunarungu) yang
berbicara.
e. Oralisme
menitikberatkan pada kebutuhan berpartisipasi dalam dunia normal.
Kemudian secara
bersama-sama aliran manualisme dan oralisme berkembang ke Amerika, Manualisme
dikembangkan oleh Galaudet atas pengaruh belajar di Paris Perancis, sedangkan
Oralisme dikembangkan oleh Alexander Graham Bell yang kemudian menemukan alat
telepon yang ternama dengan mengembangkan pemakaian alat Bantu Dengar (Hearing
Aid) serta pengeras suara. Maka timbulah satuan ukuran pendengaran seseorang
yang disebut deciBell (dB). Dan di Inggris dikembangkan oleh Thomas Braidwood.
Di Indonesia pendidikan
anak tunarungu dimulai di Bandung Jawa Barat, sekitar tahun 1930 dan beberapa
tahun kemudian didirikan sekolah luar biasa B (SLB bagian B) di Wonosobo Jawa
Tengah dan sekarang ini telah tersebar di seluruh tanah air Indonesia dan
kebanyakan diselenggarakan oleh pihak swasta berupa yayasan. Di Bali terdapat
sekolah pembina tingkat nasional dan di Subang ada sekolah pembina luar biasa B
tingkat Provinsi. Mengenai sistem pendidikan di Indonesia umumya mempergunakan
metode membaca ajaran bibir (lip reading) namun sejak beberapa tahun di SLB/B
kota Jakarta khususnya, SLB/B Zinnia dan di Surabaya SLB/B karya Mulya telah
dimulai dengan komunikasi total (total communication). Adapun pengertian
komunikasi total menurut Edward Miner Gollandet (1837 – 1902) dalam buku A World
Of Language For Dear Children sebagai combined
system and combined method yaitu a
combined of signs, finger spelling and speech.
Jadi merupakan
kombinasi isyarat, ejaan jari dan bicara. Komunikasi total ini akan
dikembangkan di SLB/B seluruh Indonesia dengan dilakukannya kamus sistem
isyarat bahasa Indonesia sebagai komponen komunikasi total pada tanggal 2 Mei
1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Ar. Ing. Wardiman
Djojonegoro.
Selama ini belum
terselenggara pendidikan terpadu secara resmi, meskipun sudah banyak anak-anak
tunarungu yang berhasil duduk di bangku sekolah SMTP, SMTA, maupun Perguruan
Tinggi. Pendidikan anak tunarungu telah dimulai pada usia yang sangat dini
yakni pada usia 2 tahun atau pada usia dimana anak telah dapat berjalan.
Adapun tujuan
pendidikan sedini mungkin diterapkan agar sisa pendengaran dapat dipertahankan
dengan pemberian rangsangan atau stimulasi. Diharapkan anak dapat mengembangkan
bicaranya (tidak bisu), sehingga hanya menjadi anak tunarungu dan tidak menjadi
anak tunawicara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar