Jumat, 13 Desember 2013

Cara Deteksi Tuna Rungu

CARA MENDETEKSI KETUNARUNGUAN
A. Mendeteksi Secara Klinis
1. Melakukan Pemeriksaan
a. Pemeriksaan telinga :
- Pemeriksaan telinga luar-dalam
 Perhatikan tanda-tanda :
Apakah ada kelainan bentuk daun telinga
Liang telinga terdapat cairan darah atau tersumbat.
2. Tanyakan  keluhan-keluhan telinga :
- Apakah sering sakit pada liang telinga ?
- Apakah sering gatal pada liang telinga ?
- Apakah telinga sering mendengung atau mendenging ?
- Apakah ada pembengkakan di belakang daun telinga ?
- Apakah ada lubang atau bekas lubang di belakang daun telinga ?
3. Pemeriksaan fungsi telinga :
a. Tes Bisik (whisper test)
Tugas Taste (orang yang di test) menirukan apa yang dikatakan oleh Tester (orang yang mengetes) secara berbisik, atau Taste mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh Tester. Jika Taste dapat mengerjakan dengan tepae, berarti pendengarannya masih baik.
Caranya  :
Dilakukan di tempat yang tenang
Ukuran  jarak anak dan pemeriksa 6m atau 5 m,ada yang 75 cm.
Periksa dahulu telinga kanan.
Telinga menghadap pemeriksa (mis :kanan,telinga kiri di tutup rapat dengan tangan).
Pemeriksa membisikkan kata-kata yang harus di terima  si anak.
Bila bisa menirukan dengan tepat =5/6 (6/6).
Bila anak tak dapat mengulangi kata-kata yang dibisikkan ,si pemeriksa maju 1 meter dan mengulang berbisik,bila bisa menirukan dengan tepat = 5/6 (6/6).
Cara berbisik : pada saat mengeluarkan udara pernapasan hamper selesai,di saat itu pula kita berbisik.
Berbicara  pada  jarak 30 inci (75 cm) Kehilangan pendengaran
Mengerti  bisikan  perlahan
Mengerti  bisikan  keras
Mengerti  suara  sedang
Mengerti  suara  keras < 30 dB
< 45 dB
< 60 dB
< 70 dB


b. Tes detik jam
- Mendengarkan detik jam tangan dan hitung jarak dimana anak tak bisa mendengar detik tersebut (cm).
- Dilakukan kedua telinga secara bergantian
- Bandingkan dengan pemeriksa (dengan catatan pendengaran pemeriksa harus normal)
- Apabila cara a dan b tidak bisa dilakukan karena anak tidak bisa kooperatif, maka dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
1) Apakah ada reaksi apabila anak dipanggil nama belakangnya, atau;
2) Dibunyikan suara (bel, pukulan piring dengan sendok, dll).

c. Tes mendengar suara :
Pemeriksa menyembunyikan suara, missal: kambing, ayam, jangkrik, katak, burung, dll. Selanjutnya anak diminta untuk menebak suara tersebut.

4. Mendeteksi Ketunarunguan
Diagnosis dari gangguan pendengaran adalah suatu masalah yang komplek idealnya harus berdasarkan pada :
1. Keluhan penderita
2. Riwayat penyakit sebelumnya
3. Hasil pemeriksaan pisik
4. Perkiraan lokasi lesi (kelainan).
Test pendengaran penting untuk diagnosis karena membantu mengetahui lokasilesi. Penggunaan dan interpretasi yang sesuai dari tes pendengaran ini dapat membantu Pathologist untuk membedakan gangguan pada :
1. Telinga tengah
2. Cochlea
3. Nervus VUI
Gangguan pendengaran (tuli) adalah mengenai derajat dan juga jenis gangguan tersebut. Ketika pasien mengeluh pendengarannya berkurang ,maka untuk membuat diagnosa dan pengelolaan otologis harus mengetahui seberapa jauh gangguan pendengaran tersebut pada frekuensi rendah,sedang dan tinggi. Bagaimana pendengaran pasien pada hantaran udara di bandingkan dengan hantaran tulang,dan seberapa serius pasien ini tergantung oleh gangguan pendengaran (tuli tersebut).
Untuk menjawab pertanyaan di atas otologist harus memikirkan bermacam-macam tes untuk pendengaran penderita,mulai dari yang kasar yaitu tes detik jamsampai pengukuran kwantitatif yang di mungkinkan karena perkembangan audiometer nada murni dan tutur kata.
Adapun untuk mendeteksi ketunarunguan (mendiagnosis) gangguan pendengaran yang lain yaitu dengan :
1) Test Garpu Tala
Pada otology metoga klasik untuk mengukur ketulian adalah dengan mengukur respons pasien terhadap garpu taala. Garpu tala dengan macam frekwensi diseleksi untuk tes standar. Frekwensi ini bertingkat dari ‘c’ 128 CPS sampai 192 CPS. Tes garpu tala yang paling terkenal adalah Rinne dan Weber yang di kemukan setelah abad 19.
Macamnya :
a. Tes Rinne
Garpu tala C2 (512 cps) adalah yang paling berguna untuk mengevaluasi pendengaran terapi  C1, C3 dan C4 juga berguna untuk test luar frekuensi garpu tala paling baik di gunakan dengan menggetarkannya dengan kuat dengan posisi siku bengkok. Kanan : normal suara terdengar lebih keras di depan telinga dengan hantaran udara, dari pada di belakang dengan hantaran tulangg rinne tes positif.

b. Tes Webber
Gunakan garpu tala C2. Dasarkan di tempelkan pada titk tengah kepala ,tetapi dapat juga pada akar tulang hidung atau di atas gigi seri. Tes weber juga membedakan antara ketulian konduktif dan sensorineural. Tes ini hanya digunakan pada kasus-kasus dimana pendengaran lebih jelas pada suatu telinga. Tes ini merupakan lateralisasi yaitu tes untuk mengetahui telinga yang mana yang lebih jelas mendengar bila tangkai garpu tala diletakkan di tengah-tengah kepala.jika pasien mendengar nada ini pada telinganya yang lebih jelek maka ketuliannya konduktif ,jika ia mendengarnya pada telinga yang lebih baik maka ketuliannya sensorineural.
Pada saat melakukan percakapan posisi pasien sedemikian rupa sehingga setiap telinga bergantian menghadap pemeriksa.pasien disuruh mengulang kata-kata yang dia dengar dari pemeriksa,kemudian pada level normal pemeriksa mengatakan sekelompok kata .jika pasien tersebut tidak dapat mengulang kata –kata tersebut pemeriksa maju mendekati pasien sampai dia dapat mengulangi semua kata yang di katakana. Prakteknya sering tes membedakan kata lebih baik dari pendengarannya suara bisik menggunakan tekhnik yang sama dengan pemeriksa tetapi lebih  menggunakan bisikan  dari pada daftar kata. Penelitian menunjukan variasi intensitas bisikan lebih kecil dari pada percakapai sehingga tes bisik ini lebih berarti.


Keadaan pendengaran Tes Rinne Tes Weber
Normal + = AC > BC Sama dikedua telinga
Tuli konduktif - = BC > AC Lateralisasi ke telinga yang adaketulian
Tuli konduktif sangat berat - = BC > AC Bila hanya BC terdengar Idem
Tuli sensorineural + = AC > BC Lateralisasi ke telinga yang lebih baik

B. Deteksi Dini Ketunarunguan Oleh Para Ahli
1. Pemeriksaan Otology
a) Pemeriksaan telinga
Telinga luar :
Kelainan pinna/auricular (daun telinga) dan telinga luar dapat terjadi bersama ketulian congenital. Contoh :
1) Lokasi pinna/auricular (pada keadaan normal puncak daun telinga setinggi mata).
2) Ukuran dan bentuk auricular.
3) Keadaan CAE : (Acanalis Acusticus Externus = liang telinga) sempit atau  menutup agresi).
4) Peradangan otitis eksterna.
5) Cerumen, benda asing, pertumbuhan tulang pada CAE (Canalis Acusticus Externus = liang telinga).
Microtia  :  daun telinga kecil atau tidak berbentuk,sering di sertai atres CAE dan kelainan tulang-tulang pendengaran.
b) Irigasi Telinga
 Aurikula di tarik keluar dan ke belakang untuk meluruskan CAE lalu di semprotkan air dengan suhu badan sepanjang dinding posterior CAE. Air akan melewati cerumen, di pantulkan kembali pada membrane tympani dan mendorong cerumen keluar. Cerumen yang keras perlu di tetes dulu sebelum irigasi.

c) Membrana Tympani
Untuk melihat membrane tympani CAE perlu di luruskan dengan cara mengangkat aurikula ke atas dan ke belakang pada orang dewasa, dan ke bawah dan belakang pada anak. Otoskop di pegang seperti memegang pena dengan menempatkan kelingking pada pipi pasien.
Sebuah “Siegle’s speculum” dapat di pasang pada otoskop untuk memperbesar penglihatan membrane tympani. Dengan alat ini dapat dilakukan pemasukan udara untuk memeriksa pergerakan membrane. Bila pergerakannya kurang kemungkinan besar terdapat cairan di dalam telinga tengah. Membrane tynpni yang normal biasanya berwarna putih-keabuan dan jernih.terlihat handle malleus maupun reflex cahaya.
Kelainan gendangan yaitu :peradangan atau perforasi
Perforasi sentral : OMA (Otitis Media Acute) dapat menyebabkan tekanan pus di telinga tengah yang menyebabkan perforasi membrane tympani.bisa terjadi penyembuhan dan penutupan kembali membran. Namun dapat pula erjadi perforasi permanen .
Perforasi marginal  : perforasi dapat mengenai annulus di bagian posterior dan di sebut marginal.struktur telinga tengah biasanya dapat terlihat melalui perforas.
Kelainan lainnya :
Telinga tengah :
1. Otitis media: dapat tanpa efusi (cairan), dengan efusi, dengan perforasi, dengan mastoiditis/cholesteotoma: OMA,SOM,OMSK, dsh.
2. Disfungsi Tuba Eustachius.
3. Celah bibir dan langit-langit.
Keterangan :
OMA : Otitis media acute
SOM : Secretory Otitis Media
OMSK : Otitis Mesia Supra Kanal
2. Audiometry
Untuk memeriksa pendengaran, mengunakan nada murni karena mudah di ukur, mudah diterangkan dan mudah di kontrol. Penting bagi seorang audioetris di seluruh di dunia untuk mengetahui secara pasti besaran apakah yang ditunjukkan oleh frekuensi dan intensias. Perhatikanlah bahwa telinga paling peka terhadap nada menengah (middle range). Angka-angka tersebut di tetapkan berdasarkan nilai international standard association untuk pendengaran normal (I.S.O – 1964).
a. Menggunakan Audiometer
Putarlah switch power untuk melayakan audiometer. Output untuk memilih earphone (kiri atau kanan) atau Bone Frequency:  memilih tinggi nada atau frekuensi, Hearing Level: mengatur intensitas nada, Tone: menghidupkan – mematikan nada, Masking: memasang bunyi masking apabila di perlukan.
b. Teknik Pemeriksaan
Luangkanlah sedikit waktu sebelum melaksakana pemeriksaan. Apabila ia merasa bahwa saudara menaruh perhatian kepadanya, maka pasien tersebut akan lebih kooperatif. Saudara dapat mengetahui sejauh mana ia dapat berkomunikasi, tanyakan kepadanya, telinga manakah yang mendengar lebih jelas, telinga mana yang lebih sering digunakan untuk menelpon, apakah ia menderita tinnitus atau apakah ia tidak tahan terhadap suara keras.
c. Pemeriksaan Liang Telinga
Hanya untuk memastikan bahwa kanal tidak tersumbat.
d. Memeriksakan Instruksi
Berikan perintah yang sederhana dan jelas. Jelaskan bahwa akan terdengar serangkaian bunyi yang akan terdengar sebelah telinga. Pasien harus memberikan tanda dengan mengangkat tangannya atau memencet tombol yang dipegangnya bila setiap terdengar bunyi bagaimanapun lemahnya.segera setelah suara hilang , ia harus menurunkan tangannya kembali atau tidak mencer tombol.
e. Memasang Headphone
Bila pasien memakai kacamata atau giwang lepaskanlah, renggangkan Headphone lebar-lebar, pasanglah di kepalanya dengan benar, Earphone kanan di telinga kanan , kemudian kencangkan sehingga terasa nyaman di telinga. Penting di perhatikan agar memoral Earphone tepat di depan liang telinga di kedua sisi.
f. Seleksi Telinga
Mulailah dengan telinga yang lebih baik.
g. Urutan Frekuensi
Dimulai pada 1000 Hz, dimana pendengaran paling stabil, kemudian meningkat ke oktaf yang lebih tinggi dan akhirnya 500 dan 250 Hz. Ulangi tes pada 1000 Hz untuk menyakinkan sebelum beralih kepada telinga yang lain. Perubahan di atas 20 dB atau lebih diantara dua oktaf, memerlukan pemeriksaan setengah oktaf yaitu 1500 Hz, 3000 Hz atau 6000 Hz.
h. Posisi Pemeriksaan
Pasien duduk di kursi dan menghadap kearah 30 derajat dari posisi pemeriksa, sehingga ia tidak dapat melihat gerakan tangan tetapi pemeriksa dapat mengamatinya dengan bebas.
i. Pemberian Sinyal
Cara yang cepat untuk memperoleh intensitas awal adalah dengan menyusurnya melalui dari 0 dB sampai di peroleh respons. Matikan sinyal satu-dua detik, kemudian berikan lagi pada level yang sama. Bila ada respons, maka tes dapat di mulai pada intensitas tersebut. Turunkan intensitas secara bertahap 10 dB setiap kali sampai respons enghilang, kemudian naikkan 10 dB untuk mendapatkan respons, dan turunkan 5 dB untuk memperoleh ambang terendah, dimana sinyal terdengar 2 kali dari 3 kali perangsangan.nada harus diberikan selama 0,5 detik secara iregular.
j. Audiogram
Ambang pendengaran biasanya di rekam ke dalam suatu grafik yang di sebut audiogram, walaupun kadang–kadang ada yang menggunakan tabel. Serangkaian hasil audiotes yang di rekam kedalam sebuah progres audiogram dapat pula di gunakan. Undang-undang pabrik di Australia masyarakat agar audiogram di simpan untuk keperluan pengamatan priodik setiap 5 tahun sekali, maka sistem perekaman, penataan dan penyimpanan (filling) yang handal merupakan sudah menjadi kebutuhan yang utama.
Simbol-simbol internasional untuk audiometri telah di gunakan sejak 1964. Tetapi simbol ini tidak berlaku di amerika yang menggunakan simbol masking yang berlainan untuk air dan bone conduktion. Simbol hantaran udara non masking yang umum di gunakan adalah x untuk kiri dan o untuk kanan. Data dari telinga kiri di tulis dengan warna biru dan untuk kanan dengan warna merah,tetapi tidak mutlak. Apabila tidak di perbolehkan respon pada batas autput pada audiometer maka tertulisakan simbol yang sesuai dengan tambahan tanda panah kebawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar