A. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Motorik
Anak Tunarungu yang tidak memiliki kecacatan lain dapat mencapai tugas-tugas perkembangan motorik seperti duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan (Preisler, 1955). Namun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunarungu memiliki kesulitan dalam hal keseimbangan dan koordinasi gerak umum, dalam menyelesaikna tugas-tugas yang memerlukan kecepatan serta gerakan yang kompleks (Ityerah & Sharma, 1997).
Jika dibandingkan dengan anak normal, anak tunarungu pada usia 6-10 tahun tidak begitu terampil dalam melakukan gerakan koordinasi dinamik seperti berjalan maju-mundur pada papan yang sempit, meloncat dan melompat. Anak tunarungu juga tidak terampil dalam koordinasi visual motorik seperti merenda tali sepatu pada papan yang diberikan lubang.
B. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Perseptual
Penelitian Savelsberg (1991) menunjukkan bahwa ketika tersedia isyarat penglihatan dan pendengaran, anak normal memberikan respon lebih cepat dan lebih akurat daripada anak tunarungu. Diduga karena signal auditori menyediakan informasi tambahan yang tidak terdapat secara visual.
Hasil penelitian Quitnerr (1994) menunjukan bahwa pendengaran dapat mempengaruhi mekanisme visual. Pada penelitian ini ditemukan bahwa anak tunarungu berat usia 9-13 tahun yang telah mendapat operasi Cochlea menunjukkan performance sama seperti anak normal dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan pemusatan perhatian secara visual. Penelitian Savelsberg (1991) menunjukkan bahwa akses terhadap suara dapat meningkatkan kemampuan visual. Akan tetapi terdapat beberapa bukti hasil penelitian yang menjelaskan bahwa pengalaman juga dapat mempengaruhi kemampuan perceptual pada anak tunarungu.
Bellugi (1990) menemukan bahwa anak tunarungu yang diperkenalkan bahasa isyarat lebih baik dalam mengenal apa yang sedang dihadapi di bawah kondisi orientasi ruang yang berbeda-beda, dibandingkan dengan anak tunarungu yang tidak diperkenalkan dengan bahasa isyarat. Kompensasi perceptual tidak terjadi secara otomati, tetapi harus melalui latihan yang intensif. Terdapat dua faktor yang dapat menjelaskan temuan ini. Pertama, anak tunarungu sejak usia dini akan memusatkan perhatian kepada apa yang sedang dihadapinya untuk memahami apa yang sedang terjadi, sedangkan anak normal tidak selalu focus dengan apa yang sedang dihadapinya karena mereka dapat menerima informasi melalui saluran auditori. Kedua, belajar bahasa isyarat sejak usia dini dapat meningkatkan keterampila visual. Hal ini didukung oleh Emmorey (1993) yang menemukan bahwa tunarungu dewasa yang belajar bahasa isyarat memiliki imajinasi visual lebih baik daripada orang dewasa yang awas dan mendengar.
C. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Fungsi Kognitif
Piaget (1967) menjelaskan bahwa Inteligensi tergantung kepada tindakan anak di dalam lingkungan dan bertanggungjawab atas tindakannya sendiri. Melalui cara ini, anak mengkonstruksi pemahaman tentang lingkungan yang tercermin dalam inteligensi. Menurut Piaget, bahasa pada anak tergantung pada struktur Inteligensi. Apabila kognisi berkembang, maka bahasa anak akan berkembang yang menggambarkan adanya perubahan dalam pemahaman.
Caroll (1956) menjelaskan bahwa persepsi dan pengertian tentang dunia tergantung pada bahasa. Menurut Vygotsky, pikiran dan bahasa pada awalnya terpisah dan berkembang secara parallel sampai kira-kira usia 2 tahun. Pada saat itu pikiran dan bahasa mulai menyatu dan saling mempengaruhi satu sama lain, yang pada akhirnya bahasa dapat digunakan untuk berpikir dan pikiran akan tercermin dalam bahasa.
D. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosi
Anak tunarungu dengan orang tua dan tunarungu lainnya yang menggunakan isyarat berkomunikasi sama efektifnya dengan anak normal berkomunikasi dengan anak normal lainnya. Sebaliknya, anak tunarungu yang orang tuanya normal mengalami kesulitan dan tidak pernah mencapai cara yang efektif dalam berkomunikasi dengan orang normal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar