Jumat, 13 Desember 2013

Klasifikasi Tuna Rungu

A. Berdasarkan Bagian Alat Pendengaran yang Mengalami Kerusakan
Berdasarkan bagian kerusakan alat pendengaran dapat di bagi menjadi 3 macam yaitu :
- Tuna Rungu Konduktif
Adalah kelainan pada telinga luar dan dalamnya. Getaran – getaran udara tidak dapat ditangkap oleh gendang telinga dan getaran suara tidak dapat mencapai syarat pendengaran.
- Tuna Rungu Perspective
Adalah kelainan pada alat pendengaran telinga bagian dalam sehingga serabut – serabut syaraf tidak dapat berfungsi normal.
- Gejala Tuna Rungu Campuran
Adalah kelainan pada alat pendengaran baik luar maupun dalam.

B. Berdasarkan Bentuk Kelainan Pendengaran
Menurut Samuel A.Kirk dalam bukunya yang berjudul Educating Exceptional Children, kelainan dapat terjadi dalam beberapa bentuk yang berbeda yaitu :
- Conductive Losses
Adalah seseorang yang kehilangan intensitas pencapaian suara, telinga bagian tengah saat mulainya getaran syaraf pendengaran. Deretan getaran – getaran dapat terhalangi dan terhambat saat pencapaian suara syaraf.
- Sensory Neural or Perspektive Losses
Hal ini disebabkan kelainan telinga bagian dalam atau pada pengiriman syaraf pendengaran yang merangsang menuju ke otak. Kehilangan indra syaraf pendengaran mungkin semua atau sebagian, dan dapat mempengaruhi beberapa frekuensi yang besar daripada yang lain.

- Central Deafness
Kelainan dimana kondisi suara seseorang dapat didengar, tetapi tidak mampu untuk menafsirkannya.
C. Berdasarkan Gradasi / Tingkatan Gangguan Pendengaran
Streng mengklasifikasikan gradasi gangguan pendengaran sebagai berikut:
- Children with mild losses are those who have a 20 to 30 db loss in the better car in the speech range.
Ciri – ciri :
a) Kemampuan dengarnya masih baik, digaris batas (border line) antara pendengaran normal dan kelainan pendengaran yang ringan.
b) Tidak mendapatkan kesukaran dalam percakapan umum.
c) Dapat mengikuti sekolah umum dengan syarat duduk di muka dekat guru.
d) Disarankan memakai hearing aid untuk meningkatkan kemampuan dengarnya.
- Children with marginal losses are those who have hearing losses of 30 to 40 db
Ciri – ciri :
a) Mengerti percakapan biasa pada jarak dekat.
b) Kurang dapat menangkap percakapan yang lemah.
c) Jika pembicara terlihat, mereka sukar menangkap isi pembicaraan.
d) Kalau tidak mendapatkan bimbingan yang baik, mereka akan mengalami kelainan bicara.
e) Disarankan memakai hearing aid untuk mencegah perkembangan bahasa dan bicara yang kurang baik.

- Children with moderate losses are those with 40 to 60 db losses
Ciri – ciri :
a) Mengerti percakapan yang keras dalam jarak dekat.
b) Tidak dapat mendengar bisik – bisik atau detik jam.
c) Jika diajak berbica seringkali salah pengertian.
d) Kekayaan bahasa terbatas.
e) Dapat mengerti dengan baik jika daya dengar dibantu dengan daya penglihatan dan suara lawan bicara diperkeras.
f) Harus masuk SLB B dan harus ada perlakuan khusus dalam memperkaya bahasa. Dilatih menggunakan bahasa secara baik dan belajar membaca dan menulis secara continue.
- Children with severe losses are those having hearing losses of 60 to 75 db
Ciri – ciri :
a) Perkembangan bicara dan bahasa tidak tumbuh secara spontan.
b) Kualitas suara dapat dilatih dengan baik.
c) Terletak antara garis batas antara sulit menerima didikan yang disampaikan dengan lisan dan keadaan tunarungu berat.
d) Perlu memakai hearing aid.
e) Memerlukan metode khusus dalam mengajar bicara, sebab mereka sudah termasuk anak tuli.
- Children with profound losses are those with hearing losses greater than 75 db
Ciri – ciri :
a) Tidak menyadari ada bunyi yang keras. Mungkin ada reaksi kalau didekatkan di telinganya.
b) Bahasa dan bicaranya tidak tumbuh dan tidak berkembang secara spontan.
c) Harus belajar bunyi bahasa, dan harus masuk sekolah luar biasa bagian B.
d) Pemakaian hearing aid kurang berarti karena mengalami kurang pendengaran yang berat, tetapi ada manfaatnya dapat menangkap suara – suara keras, seperti tuter mobil.
e) Memerlukan metode khusus dalam mengajar bahasa.

Menurut Moh Yamin dam kawan – kawan yang dituliskan dalam buku Pedoman Praktis Penyelenggaraan Sekolah Luar Biasa B Tunarungu–wicara, membagi tingkat gangguan sebagai berikut :
- Tuna rungu sangat ringan ( 0-25 dB )
a) Penderita kelihatan normal pendengarannya.
b) Dapat mengikuti sekolah biasa.
c) Dapat mengontrol ritme, tekanan, kecepatan dengan baik.
d) Mimik normal.
- Tuna rungu ringan (30-40 dB )
a) Lip reading dan speech reading dikerjakan dengan baik.
b) Sedikit mengalami kesulitan dalam menangkap pembicaraan tanpa melihat pembicara.
c) Daya pemahaman bahasa dapat diperbaiki dengan memakai hearing aid.
- Tuna rungu sedang ( 40-60 dB )
a) Hanya dapat menangkap pembicaraan melalui pendengarannya kalau suara diperkeras.
b) Daya tangkap dan daya pengertian terhadap bahasa akan lebih baik lagi, jika daya dengar dibantu oleh penglihatan.
c) Peranan hearing aid dalam lip reading dan speech reading sangat penting.
- Tuna rungu berat ( 60-70 dB )
a) Kualitas suara masih dapat diperbaiki dengan latihan – latihan dan memakai hearing aid.
b) Sebelum mendapatkan pendidikan khusus akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Tuli dan tuli berat ( 70 dB dan lebih parah )
a) Tidak dapat menangkap bahasa lisan walaupun memakai hearing aid.
b) Pemakaian hearing aid tetap berguna untuk keamanan dirinya sehingga terhindar dari kecelakaan.
- Total deafness
Jarang terjadi dalam masyarakat.

D. Berdasarkan Etiologis, Anatomis, Dan Fisiologis Ukuran Nada yang Dapat Didengar ( Emon Sastro Winoto )
a) Klasifikasi etiologis
Secara etiologis tuna rungu dapat dibedakan menjadi :
- Tunarungu endogen
Yaitu tunarungu-wicara/tunarungu yang diturunkan dari orang tuanya atau bawaan.
- Tunarungu eksogen
Yaitu tunarungu yang disebabkan karena suatu penyakit atau kecelakaan.
b) Klasifikasi anatomis – fisiologis
Secara anatomis – fisiologis anak tunarungu dapat dibedakan menjadi:
- Tunarungu hantaran (konduktif)
Yaitu tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya otot – otot penghantar getaran pada telinga tengah.
- Tunarungu perspektif (syaraf)
Tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat–alat pendengaran pada telinga dalam, sehingga tidak dapat meneruskan rangsangan ke pusat pendengaran.
c) Klasifikasi menurut ukuran nada yang tidak dapat didengar
Jika seseorang tidak dapat mendengar nada yang rendah, dan jika tidak dapat mendengar nada rendah maupun nada tinggi, maka disebut tunarungu total.


E. Berdasarkan Sifat dan Cara Rehabilitasi
Prof Dr Soewito FK–UGM, dalam makalahnya “pengembangan pola pelayanan penderita tunarungu secara profesional dan terpadu di Indonesia, mengemukakan bahwa: pada garis besarnya jenis ketulian dapat dibagi dalam 3 kategori dengan sifat–sifat dan cara rehabilitasinya masing masing”
Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1) Tuli konduksi
- Kerusakan: terjadi pada rantai pendengaran yang meneruskan dan memperkuat getaran suara (saluran telinga luar gendang telinga–tulang pendengaran).
- Derajat ketulian: ringan sampai sedang.
- Sifat ketulian: kualitas suara berkurang, kualitas suara tetap baik.
- Rehabilitasi: medis operatif dari ahli THT ABD.
2) Tuli persepsi (syaraf)
- Kerusakan: terjadi pada respektor dan atau syaraf pendengaran.
- Derajat ketulian: ringan sedang berat total.
- Sifat ketulian: kuantitas suara hilang/berkurang.
- Rehabilitasi: non medis, latihan mendengar dan membaca bibir dalam ABD.
3) Tuli campuran keduanya
- Sifat ketulian: sama dengan tuli syaraf.
- Rehabilitasi: non medis sesuai dengan tuli syaraf.

F. Jenis Ketunarunguan serta Kemampuan Mengerti Bicara dan Bahasa
a. 10-20 db (normal), tidak ada hubungan dengan gangguan bahasa.
b. 20-35 db (mild), tidak ada hubungan dengan gangguan bahasa. Tapi mungkin perkembangan bahasa terlambat.
c. 35-55 db (mild to moderate), ada beberapa kesulitan artikulasi, perkembangan kata mungkin tidak sempurna.
d. 55-70 db (moderate), artikulasi dan suara tidak baik dan pembendaharaan kata tidak sempurna.
e. 70-90 db (severe), artikulasi dan kualitas suara tidak baik, kalimat dan aspek-aspek bahasa tidak sempurna.
f. 90 db atau lebih (severe to profound), ritme suara, suara, dan artikulasi tidak baik. Bicara, bahasa harus dikembangkan secara intensif dan seksama.
g. 100 db lebih (profound), sangat perlu bantuan tentang keberadaan pendengarannya, tapi tidak perlu bantuan pengembangan bicara melalui pendengaran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar