Jumat, 13 Desember 2013

Cara pencegahan dan Kebutuhan Tuna Rungu

CARA PENCEGAHAN DAN JENIS KEBUTUHAN TUNARUNGU

A. Cara Pencegahan Terjadinya Tunarungu
1. Pada saat sebelum nikah (pranikah) antara lain: menghindari pernikahan sedarah atau pernikahan dengan saudara dekat; melakukan pemeriksaan darah; dan melakukan konseling genetika.
2. Upaya yang dapat dilakukan pada waktu hamil, antara lain:  menjaga kesehatan dan memeriksakan kehamilan secara teratur;  mengkonsumsi gizi yang baik/seimbang; tidak meminum obat sembarangan; dan melakukan imunisasi tetanus.
3. Upaya yang dapat dilakukan pada saat melahirkan, antara lain: tidak menggunakan alat penyedot dan apabila Ibu tersebut terkena virus herpes simplek pada daerah vaginanya, maka kelahiran harus melalui operasi caesar.
4. Upaya yang dapat dilakukan pada masa setelah lahir antara lain: melakukan imunisasi dasar serta imunisasi rubela yang sangat penting, terutama bagi wanita; mencegah sakit influenza yang terlalu lama (terutama pada anak); dan menjaga telinga dari kebisingan.

B. Jenis Kebutuhan Tunarungu
1. Pendidikan khusus
Bagi anak tunarungu, kita bisa memberikan suatu layanan pendidikan yang spesifik yaitu terletak pada pengembangan persepsi bunyi dan komunikasi. Hallahan dan Kaufman(1988),  menyatakan bahwa ada tiga pendekatan umum dalam mengajarkan komunikasi anak tunarungu, yaitu :
1)  Auditory training
2)  Speechreading
3)  Sing language and fingerspelling
Selain layanan pendidikan bagi anak tunarungu seperti yang telah dijelaskan diatas, kita pun mampu memberikan fasilitas anak tunarungu dalam pendidikan secara umum, dimana hal ini relatif sama dengan anak normal, seperti papan tulis, buku, buku pelajaran,alat tulis, sarana bermain dan olahraga. Oleh karena anak tunarungu mempunyai hambatan dalam mendengar dan berbicara, maka mereka memerlukan alat bantu khusus.

C. Alat Pendidikan Khusus
Berhubung dengan ketulian yang dideritanya, maka sangat diperlukan alat-alat bantu khusus meningkatkan potensinya, yang masih dapat diperbaiki dan dikembangkan terutama masalah komunikasi baik dengan menggunakan bahasa lisan maupun tulisan.
Kebutuhan minimal alat kebutuhan khusus di Sekolah Luar Biasa untuk anak-anak tunarungu antara lain:
1. Audiometer
Yaitu alat penelitian yang dapat mengukur segala aspek dari pendengaran seseorang. Dengan audiometer dapat dibuat sebuah audigram yang dapat memberitahukan angka dari sisa pendengaran anak.
2. Alat bantu mendengar (hearing aid)
Dengan mempergunakan alat bantu dengar (hearing aid) perorangan dan alat bantu dengan (group hearing aid) kelompok, anak-anak tunarungu diberikan latihan mendengar. Latihan-latihan tersebut dapat diberikan secara individual atau secara kelompok.
3. Cermin
Untuk memberikan contoh-contoh ucapan dengan artikulasi yang baik diperlukan sebuah cermin. Dengan bantuan cermin kita dapat menyadarkan anak terhadap posisi bicara yang kurang tepat. Dengan bantuan cermin kita dapat mengucapkan beberapa contoh konsonan, vokal dan kata-kata atau kalimat dengan baik.

4. Alat bantu wicara (speech trainer)
Speech trainer ialah sebuah alat elektronik terdiri dari amplifaer, head phone dan mickrophone. Gunanya untuk memberikan latihan bicara individual. Bagi yang masih mempunyai sisa pendengaran cukup banyak akan sangat membantu pembentukan ucapannya. Bagi yang sisa pendengarannya sedikit akan membantu dalam pembentukan suara dan irama.
5. Alat Peraga
Untuk memperkaya perbendaharaan bahasa anak hendaknya jangan dilupakan alat-alat peraga tradisional seperti:
1) Miniatur binatang-binatang
2) Miniatur manusia
3) Gambar-gambar yang relevan
4) Buku perpustakaan yang bergambar
5) Alat-alat permainan anak.
Sesuai dengan kemampuan anak tunarungu dalam kurikulum lebih diutamakan mata pelajaran keterampilan yang menuju kearah irama. Untuk itu diperlukan alat-alat keterampilan untuk pria dan atau wanita antara lain sebagai berikut :
1) Alat pertukangan
2) Alat pertanian
3) Alat perbengkelan
4) Alat tenun
5) Alat masak memasak
6) Alat jahit menjahit
7) Alat salon kecantikan
8) Alat potong rambut (barber shop)
9) Komputer



D. Metode Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan semua orang, termasuk anak tunarungu. Oleh karena itu, anak tunarungu membutuhkan pengajaran bahasa agar mereka dapat berkomunikasi dengan orang lain. Terdapat tiga metode utama individu tunarungu belajar bahasa, diantaranya dengan membaca ujaran, melalui pendengaran, dan dengan komunikasi manual, atau dengan kombinasi ketiga cara tersebut.
1. Belajar Bahasa Melalui Membaca Ujaran (Speechreading)
Orang dapat memahami pembicaraan orang lain dengan “membaca” ujarannya melalui gerakan bibirnya. Akan tetapi, hanya sekitar 50% bunyi ujaran yang dapat terlihat pada bibir (Berger, 1972). Di antara 50% lainnya, sebagian dibuat di belakang bibir yang tertutup atau jauh di bagian belakang mulut sehingga tidak kelihatan, atau ada juga bunyi ujaran yang pada bibir tampak sama sehingga pembaca bibir tidak dapat memastikan bunyi apa yang dilihatnya. Hal ini sangat menyulitkan bagi mereka yang ketunarunguannya terjadi pada masa prabahasa. Seseorang dapat menjadi pembaca ujaran yang baik bila ditopang oleh pengetahuan yang baik tentang struktur bahasa sehingga dapat membuat dugaan yang tepat mengenai bunyi-bunyi yang “tersembunyi” itu. Jadi, orang tunarungu yang bahasanya normal biasanya merupakan pembaca ujaran yang lebih baik daripada tunarungu prabahasa, dan bahkan terdapat bukti bahwa orang non-tunarungu tanpa latihan dapat membaca bibir lebih baik daripada orang tunarungu yang terpaksa harus bergantung pada cara ini (Ashman & Elkins, 1994).
Kelemahan sistem baca ujaran ini dapat diatasi bila digabung dengan sistem cued speech (isyarat ujaran). Cued Speech adalah isyarat gerakan tangan untuk melengkapi membaca ujaran (speechreading).
Delapan bentuk tangan yang menggambarkan kelompok-kelompok konsonan diletakkan pada empat posisi di sekitar wajah yang menunjukkan kelompok-kelompok bunyi vokal. Digabungkan dengan gerakan alami bibir pada saat berbicara, isyarat-isyarat ini membuat bahasa lisan menjadi lebih tampak (Caldwell, 1997). Cued Speech dikembangkan oleh R. Orin Cornett, Ph.D. di Gallaudet University pada tahun 1965 66. Isyarat ini dikembangkan sebagai respon terhadap laporan penelitian pemerintah federal AS yang tidak puas dengan tingkat melek huruf di kalangan tunarungu lulusan sekolah menengah. Tujuan dari pengembangan komunikasi isyarat ini adalah untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak tunarungu dan memberi mereka fondasi untuk keterampilan membaca dan menulis dengan bahasa yang baik dan benar. Cued Speech telah diadaptasikan ke sekitar 60 bahasa dan dialek. Keuntungan dari sistem isyarat ini adalah mudah dipelajari (hanya dalam waktu 18 jam), dapat dipergunakan untuk mengisyaratkan segala macam kata (termasuk kata-kata prokem) maupun bunyi-bunyi non-bahasa. Anak tunarungu yang tumbuh dengan menggunakan cued speech ini mampu membaca dan menulis setara dengan teman-teman sekelasnya yang non-tunarungu (Wandel, 1989 dalam Caldwell, 1997).
2. Belajar Bahasa Melalui Pendengaran
Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa individu tunarungu dari semua tingkat ketunarunguan dapat memperoleh manfaat dari alat bantu dengar tertentu. Alat bantu dengar yang telah terbukti efektif bagi jenis ketunarunguan sensorineural dengan tingkat yang berat sekali adalah cochlear implant. Cochlear implant adalah prostesis alat pendengaran yang terdiri dari dua komponen, yaitu komponen eksternal (mikropon dan speech processor) yang dipakai oleh pengguna, dan komponen internal (rangkaian elektroda yang melalui pembedahan dimasukkan ke dalam cochlea (ujung organ pendengaran) di telinga bagian dalam. Komponen eksternal dan internal tersebut dihubungkan secara elektrik. Prostesis cochlear implant dirancang untuk menciptakan rangsangan pendengaran dengan langsung memberikan stimulasi elektrik pada syaraf pendengaran (Laughton, 1997).
Akan tetapi, meskipun dalam lingkungan auditer terbaik, jumlah bunyi ujaran yang dapat dikenali secara cukup baik oleh orang dengan klasifikasi ketunarunguan berat untuk memungkinkannya memperoleh gambaran yang lengkap tentang struktur sintaksis dan fonologi bahasa itu terbatas. Tetapi ini tidak berarti bahwa penyandang ketunarunguan yang berat sekali tidak dapat memperoleh manfaat dari bunyi yang diamplifikasi dengan alat bantu dengar. Yang menjadi masalah besar dalam hal ini adalah bahwa individu tunarungu jarang dapat mendengarkan bunyi ujaran dalam kondisi optimal. Faktor-faktor tersebut mengakibatkan individu tunarungu tidak dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari alat bantu dengar yang dipergunakannya. Di samping itu, banyak penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar alat bantu dengar yang dipergunakan individu tunarungu itu tidak berfungsi dengan baik akibat kehabisan batrei dan earmould yang tidak cocok.
3. Belajar Bahasa secara Manual
Secara alami, individu tunarungu cenderung mengembangkan cara komunikasi manual atau bahasa isyarat. Untuk tujuan universalitas, berbagai negara telah mengembangkan bahasa isyarat yang dibakukan secara nasional. Ashman & Elkins (1994) mengemukakan bahwa komunikasi manual dengan bahasa isyarat yang baku memberikan gambaran lengkap tentang bahasa kepada tunarungu, sehingga mereka perlu mempelajarinya dengan baik. Kerugian penggunaan bahasa isyarat ini adalah bahwa para penggunanya cenderung membentuk masyarakat yang eksklusif.

E. Pendekatan dalam Pengajaran Bahasa bagi Anak Tunarungu
Pengajaran bahasa secara terprogram bagi anak tunarungu harus dimulai sedini mungkin bila kita mengharapkan tingkat keberhasilan yang optimal. Terdapat dua pendekatan dalam pengajaran bahasa kepada anak tunarungu secara dini, yaitu pendekatan auditori-verbal dan auditori-oral.
1. Pendekatan Auditori verbal
Pendekatan auditori-verbal bertujuan agar anak tunarungu tumbuh dalam lingkungan hidup dan belajar yang memungkinkanya menjadi warga yang mandiri, partisipatif dan kontributif dalam masyarakat inklusif. Falsafah auditori-verbal mendukung hak azazi manusia yang mendasar bahwa anak penyandang semua tingkat ketunarunguan berhak atas kesempatan untuk mengembangkan kemampuan untuk mendengarkan dan menggunakan komunikasi verbal di dalam lingkungan keluarga dan masyarakatnya. Pendekatan auditori verbal didasarkan atas prinsip mendasar bahwa penggunaan amplifikasi memungkinkan anak belajar mendengarkan, memproses bahasa verbal, dan berbicara. Opsi auditori verbal merupakan strategi intervensi dini, bukan prinsip-prinsip yang harus dijalankan dalam pengajaran di kelas. Tujuannya adalah untuk mengajarkan prinsip-prinsip auditori verbal kepada orang tua yang mempunyai bayi tunarungu (Goldberg, 1997).
Prinsip-prinsip praktek auditori verbal itu adalah sebagai berikut:
a. Berusaha sedini mungkin mengidentifikasi ketunarunguan pada anak, idealnya di klinik perawatan bayi.
b. Memberikan perlakuan medis terbaik dan teknologi amplifikasi bunyi kepada anak tunarungu sedini mungkin.
c. Membantu anak memahami makna setiap bunyi yang didengarnya, dan mengajari orang tuanya cara membuat agar setiap bunyi bermakna bagi anaknya sepanjang hari.
d. Membantu anak belajar merespon dan menggunakan bunyi sebagaimana yang dilakukan oleh anak yang berpendengaran normal.
e. Menggunakan orang tua anak sebagai model utama untuk belajar ujaran dan komunikasi lisan.
f. Berusaha membantu anak mengembangkan sistem auditori dalam (inner auditory system) sehingga dia menyadari suaranya sendiri dan akan berusaha mencocokkan apa yang diucapkannnya dengan apa yang didengarnya.
g. Memahami bagaimana anak yang berpendengaran normal mengembangkan kesadaran bunyi, pendengaran, bahasa, dan pemahaman, dan menggunakan pengetahuan ini untuk membantu anak tunarungu mempelajari keterampilan baru.
h. Mengamati dan mengevaluasi perkembangan anak dalam semua bidang.
i. Mengubah program latihan bagi anak bila muncul kebutuhan baru.
j. Membantu anak tunarungu berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun sosial bersama-sama dengan anak-anak yang berpendengaran normal dengan memberikan dukungan kepadanya di kelas reguler.
Hasil penelitian terhadap sejumlah tamatan program auditori verbal di Amerika Serikat dan Kanada (Goldberg & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997) menunjukkan bahwa mayoritas responden terintegrasi ke dalam lingkungan belajar dan lingkungan hidup “reguler”. Kebanyakan dari mereka bersekolah di sekolah biasa di dalam lingkungannya, masuk ke lembaga pendidikan pasca sekolah menengah yang tidak dirancang khusus bagi tunarungu, dan terlibat dalam kegiatan-kegiatan masyarakat. Di samping itu, keterampilan membacanya setara atau lebih baik daripada anak-anak berpendengaran normal (Robertson & Flexer, 1993, dalam Goldberg, 1997).
2. Pendekatan Auditori Oral
Pendekatan auditori oral didasarkan atas premis mendasar bahwa memperoleh kompetensi dalam bahasa lisan, baik secara reseptif maupun ekspresif, merupakan tujuan yang realistis bagi anak tunarungu. Kemampuan ini akan berkembang dengan sebaik-baiknya dalam lingkungan di mana bahasa lisan dipergunakan secara eksklusif. Lingkungan tersebut mencakup lingkungan rumah dan sekolah (Stone, 1997).
Elemen-elemen pendekatan auditori oral yang sangat penting untuk menjamin keberhasilannya mencakup:
a. Keterlibatan orang tua. Untuk memperoleh bahasa dan ujaran yang efektif menuntut peran aktif orang tua dalam pendidikan bagi anaknya.
b. Upaya intervensi dini yang berfokus pada pendidikan bagi orang tua untuk menjadi partner komunikasi yang efektif.
c. Upaya-upaya di dalam kelas untuk mendukung keterlibatan anak tunarungu dalam kegiatan kelas.
d. Amplifikasi yang tepat. Alat bantu dengar merupakan pilihan utama, tetapi bila tidak efektif, penggunaan cochlear implant merupakan opsi yang memungkinkan.
Mengajari anak mengunakan sisa pendengaran yang masih dimilikinya untuk mengembangkan perolehan bahasa lisan merupakan hal yang mendasar bagi pendekatan auditori oral. Meskipun dimulai sebelum anak masuk sekolah, intervensi oral berlanjut di kelas. Anak diajari keterampilan mendengarkan yang terdiri dari empat tingkatan, yaitu deteksi, diskriminasi, identifikasi, dan pemahaman bunyi. Karena tujuan pengembangan keterampilan mendengarkan itu adalah untuk mengembangkan kompetensi bahasa lisan, maka bunyi ujaran (speech sounds) merupakan stimulus utama yang dipergunakan dalam kegiatan latihan mendengarkan itu. Pengajaran dilakukan dalam dua tahapan yang saling melengkapi, yaitu tahapan fonetik (mengembangkan keterampilan menangkap suku-suku kata secara terpisah-pisah) dan tahapan fonologik (mengembangkan keterampilan memahami kata-kata, frase, dan kalimat). Pengajaran bahasa dilaksanakan secara naturalistik dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada diri anak, tidak dalam setting didaktik. Pada masa prasekolah, pengajaran bagi anak dan pengasuhnya dilakukan secara individual, tetapi pada masa sekolah pengajaran dilaksanakan dalam setting kelas inklusif atau dalam kelas khusus bagi tunarungu di sekolah reguler. Setting pengajaran ini tergantung pada keterampilan sosial, komunikasi dan belajar anak.
Keuntungan utama pendekatan auditori-oral ini adalah bahwa anak mampu berkomunikasi secara langsung dengan berbagai macam individu, yang pada gilirannya dapat memberi anak berbagai kemungkinan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Geers dan Moog (1989) dalam Stone (1997), melaporkan bahwa 88% dari 100 siswa tunarungu usia 16 dan 17 tahun yang ditelitinya memiliki kecakapan berbahasa lisan dan memiliki tingkat keterpahaman ujaran yang tinggi. Kemampuan rata-rata membacanya adalah pada tingkatan usia 13 hingga 14 tahun, yang hampir dua kali lipat rata-rata kemampuan baca seluruh populasi anak tunarungu di Amerika Serikat.
F. Bimbingan dan Konseling bagi Anak Tunarungu
Masalah-masalah bimbingan anak tunarungu bukan karena anak memiliki kelainan (tunarungu) tetapi karena ia seorang anak yang sedang berkembang. Agar dapat memberikan layanan kepada anak tunarungu secara tepat dalam merencanakan dan menentukan masa depannya, dan agar mereka dapat memiliki kehidupan yang layak sehingga dapat mensupport diri sendiri maupun keluarganya, maka pendidikan bagi anak tunarungu perlu dilengkapi dengan program bimbingan yang jelas dan terarah sesuai dengan kebutuhan  anak.
Maksud bimbingan anak tunarungu dan jenis bimbingan apa yang diperlukannya adalah sebagai berikut :
1. Pengertian Bimbingan Anak Tunarungu
Bimbingan terhadap anak tunarungu merupakan suatu usaha mempersiapkan anak tunarungu agar dapat mencapai kondisi yang optimal dalam proses pendidikan serta mampu menghadapi tuntutan yang datang dari masyarakat. Tujuan utam bimbingan adalah untuk mengembangkan potensi setiap anak tunarungu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Usaha ini berkaitan erat dengan pengembangan kemampuan fisik, psikologis, kestabilan emosi serta kemampuan pribadi.
2. Bimbingan Komunikasi kepada Anak Tunarungu
Bimbingan komunikasi kepada anak tunarungu bertujuan membuka dan memperlancar komunikasi mereka, hal ini merupakan langkah utama dalam melaksanakan pendidikan mereka, sehingga akan memperlancar pencapaian tujuan bimbingan yang akan dilakukan secara serempak dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Bimbingan yang perlu diberikan ialah :
a. Bimbingan dilingkungan keluarga
b. Bimbingan dilingkungan sekolah
c. Bimbingan dilingkungan masyarakat.

3. Bimbingan Pribadi kepada Anak Tunarungu
Bimbingan pribadi kepada anak tunarungu bertujuan agar mereka dapat mengenal dirinya, menyadari kemampuan serta kekurangannya, dan akhirnya mereka diharapkan mempunyai sikap positif terhadap keadaan dirinya, mempunyai kemauan untuk belajar dan bekerja, tidak merasa rendah diri, serta memiliki kestabilan emosi.
Bimbingan pribadi diberikan kepada seseorang yang mempunyai masalah pribadi dengan harapan agar ia mampu mengatasi masalahnya. Masalah pribadi dapat bersumber dari dirinya sendiri, lingkungan, keluarganya, dan juga dapat bersumber dari masyarakat sekitarnya.

4. Bimbingan Pekerjaan kepada Anak Tunarungu
Bimbingan pekerjaan kepada anak tunarungu bertujuan agar anak tunarungu pada akhirnya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya dan yang cocok dengan kepribadiannya, agar mereka merasa mantap dalam pekerjaan dan menikmati kebahagiaan dalam hidupnya.
Langkah pertama yang dapat kita lakukan dalam bimbingan pekerjaan kepada anak tunarungu adalah menganalisis kepribadian, bakat dan minat mereka. Kegiatan itu perlu untuk mengarahkan dan menentukan langkah selanjutnya, sehingga dapat memberikan masukan berharga kepada pembimbing dalam memilih dan melatih pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan anak. Pemilihan pekerjaan bagi anak yang tidak sesuai akan merusak perkembangan jiwa anak.

Cara Deteksi Tuna Rungu

CARA MENDETEKSI KETUNARUNGUAN
A. Mendeteksi Secara Klinis
1. Melakukan Pemeriksaan
a. Pemeriksaan telinga :
- Pemeriksaan telinga luar-dalam
 Perhatikan tanda-tanda :
Apakah ada kelainan bentuk daun telinga
Liang telinga terdapat cairan darah atau tersumbat.
2. Tanyakan  keluhan-keluhan telinga :
- Apakah sering sakit pada liang telinga ?
- Apakah sering gatal pada liang telinga ?
- Apakah telinga sering mendengung atau mendenging ?
- Apakah ada pembengkakan di belakang daun telinga ?
- Apakah ada lubang atau bekas lubang di belakang daun telinga ?
3. Pemeriksaan fungsi telinga :
a. Tes Bisik (whisper test)
Tugas Taste (orang yang di test) menirukan apa yang dikatakan oleh Tester (orang yang mengetes) secara berbisik, atau Taste mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh Tester. Jika Taste dapat mengerjakan dengan tepae, berarti pendengarannya masih baik.
Caranya  :
Dilakukan di tempat yang tenang
Ukuran  jarak anak dan pemeriksa 6m atau 5 m,ada yang 75 cm.
Periksa dahulu telinga kanan.
Telinga menghadap pemeriksa (mis :kanan,telinga kiri di tutup rapat dengan tangan).
Pemeriksa membisikkan kata-kata yang harus di terima  si anak.
Bila bisa menirukan dengan tepat =5/6 (6/6).
Bila anak tak dapat mengulangi kata-kata yang dibisikkan ,si pemeriksa maju 1 meter dan mengulang berbisik,bila bisa menirukan dengan tepat = 5/6 (6/6).
Cara berbisik : pada saat mengeluarkan udara pernapasan hamper selesai,di saat itu pula kita berbisik.
Berbicara  pada  jarak 30 inci (75 cm) Kehilangan pendengaran
Mengerti  bisikan  perlahan
Mengerti  bisikan  keras
Mengerti  suara  sedang
Mengerti  suara  keras < 30 dB
< 45 dB
< 60 dB
< 70 dB


b. Tes detik jam
- Mendengarkan detik jam tangan dan hitung jarak dimana anak tak bisa mendengar detik tersebut (cm).
- Dilakukan kedua telinga secara bergantian
- Bandingkan dengan pemeriksa (dengan catatan pendengaran pemeriksa harus normal)
- Apabila cara a dan b tidak bisa dilakukan karena anak tidak bisa kooperatif, maka dapat dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
1) Apakah ada reaksi apabila anak dipanggil nama belakangnya, atau;
2) Dibunyikan suara (bel, pukulan piring dengan sendok, dll).

c. Tes mendengar suara :
Pemeriksa menyembunyikan suara, missal: kambing, ayam, jangkrik, katak, burung, dll. Selanjutnya anak diminta untuk menebak suara tersebut.

4. Mendeteksi Ketunarunguan
Diagnosis dari gangguan pendengaran adalah suatu masalah yang komplek idealnya harus berdasarkan pada :
1. Keluhan penderita
2. Riwayat penyakit sebelumnya
3. Hasil pemeriksaan pisik
4. Perkiraan lokasi lesi (kelainan).
Test pendengaran penting untuk diagnosis karena membantu mengetahui lokasilesi. Penggunaan dan interpretasi yang sesuai dari tes pendengaran ini dapat membantu Pathologist untuk membedakan gangguan pada :
1. Telinga tengah
2. Cochlea
3. Nervus VUI
Gangguan pendengaran (tuli) adalah mengenai derajat dan juga jenis gangguan tersebut. Ketika pasien mengeluh pendengarannya berkurang ,maka untuk membuat diagnosa dan pengelolaan otologis harus mengetahui seberapa jauh gangguan pendengaran tersebut pada frekuensi rendah,sedang dan tinggi. Bagaimana pendengaran pasien pada hantaran udara di bandingkan dengan hantaran tulang,dan seberapa serius pasien ini tergantung oleh gangguan pendengaran (tuli tersebut).
Untuk menjawab pertanyaan di atas otologist harus memikirkan bermacam-macam tes untuk pendengaran penderita,mulai dari yang kasar yaitu tes detik jamsampai pengukuran kwantitatif yang di mungkinkan karena perkembangan audiometer nada murni dan tutur kata.
Adapun untuk mendeteksi ketunarunguan (mendiagnosis) gangguan pendengaran yang lain yaitu dengan :
1) Test Garpu Tala
Pada otology metoga klasik untuk mengukur ketulian adalah dengan mengukur respons pasien terhadap garpu taala. Garpu tala dengan macam frekwensi diseleksi untuk tes standar. Frekwensi ini bertingkat dari ‘c’ 128 CPS sampai 192 CPS. Tes garpu tala yang paling terkenal adalah Rinne dan Weber yang di kemukan setelah abad 19.
Macamnya :
a. Tes Rinne
Garpu tala C2 (512 cps) adalah yang paling berguna untuk mengevaluasi pendengaran terapi  C1, C3 dan C4 juga berguna untuk test luar frekuensi garpu tala paling baik di gunakan dengan menggetarkannya dengan kuat dengan posisi siku bengkok. Kanan : normal suara terdengar lebih keras di depan telinga dengan hantaran udara, dari pada di belakang dengan hantaran tulangg rinne tes positif.

b. Tes Webber
Gunakan garpu tala C2. Dasarkan di tempelkan pada titk tengah kepala ,tetapi dapat juga pada akar tulang hidung atau di atas gigi seri. Tes weber juga membedakan antara ketulian konduktif dan sensorineural. Tes ini hanya digunakan pada kasus-kasus dimana pendengaran lebih jelas pada suatu telinga. Tes ini merupakan lateralisasi yaitu tes untuk mengetahui telinga yang mana yang lebih jelas mendengar bila tangkai garpu tala diletakkan di tengah-tengah kepala.jika pasien mendengar nada ini pada telinganya yang lebih jelek maka ketuliannya konduktif ,jika ia mendengarnya pada telinga yang lebih baik maka ketuliannya sensorineural.
Pada saat melakukan percakapan posisi pasien sedemikian rupa sehingga setiap telinga bergantian menghadap pemeriksa.pasien disuruh mengulang kata-kata yang dia dengar dari pemeriksa,kemudian pada level normal pemeriksa mengatakan sekelompok kata .jika pasien tersebut tidak dapat mengulang kata –kata tersebut pemeriksa maju mendekati pasien sampai dia dapat mengulangi semua kata yang di katakana. Prakteknya sering tes membedakan kata lebih baik dari pendengarannya suara bisik menggunakan tekhnik yang sama dengan pemeriksa tetapi lebih  menggunakan bisikan  dari pada daftar kata. Penelitian menunjukan variasi intensitas bisikan lebih kecil dari pada percakapai sehingga tes bisik ini lebih berarti.


Keadaan pendengaran Tes Rinne Tes Weber
Normal + = AC > BC Sama dikedua telinga
Tuli konduktif - = BC > AC Lateralisasi ke telinga yang adaketulian
Tuli konduktif sangat berat - = BC > AC Bila hanya BC terdengar Idem
Tuli sensorineural + = AC > BC Lateralisasi ke telinga yang lebih baik

B. Deteksi Dini Ketunarunguan Oleh Para Ahli
1. Pemeriksaan Otology
a) Pemeriksaan telinga
Telinga luar :
Kelainan pinna/auricular (daun telinga) dan telinga luar dapat terjadi bersama ketulian congenital. Contoh :
1) Lokasi pinna/auricular (pada keadaan normal puncak daun telinga setinggi mata).
2) Ukuran dan bentuk auricular.
3) Keadaan CAE : (Acanalis Acusticus Externus = liang telinga) sempit atau  menutup agresi).
4) Peradangan otitis eksterna.
5) Cerumen, benda asing, pertumbuhan tulang pada CAE (Canalis Acusticus Externus = liang telinga).
Microtia  :  daun telinga kecil atau tidak berbentuk,sering di sertai atres CAE dan kelainan tulang-tulang pendengaran.
b) Irigasi Telinga
 Aurikula di tarik keluar dan ke belakang untuk meluruskan CAE lalu di semprotkan air dengan suhu badan sepanjang dinding posterior CAE. Air akan melewati cerumen, di pantulkan kembali pada membrane tympani dan mendorong cerumen keluar. Cerumen yang keras perlu di tetes dulu sebelum irigasi.

c) Membrana Tympani
Untuk melihat membrane tympani CAE perlu di luruskan dengan cara mengangkat aurikula ke atas dan ke belakang pada orang dewasa, dan ke bawah dan belakang pada anak. Otoskop di pegang seperti memegang pena dengan menempatkan kelingking pada pipi pasien.
Sebuah “Siegle’s speculum” dapat di pasang pada otoskop untuk memperbesar penglihatan membrane tympani. Dengan alat ini dapat dilakukan pemasukan udara untuk memeriksa pergerakan membrane. Bila pergerakannya kurang kemungkinan besar terdapat cairan di dalam telinga tengah. Membrane tynpni yang normal biasanya berwarna putih-keabuan dan jernih.terlihat handle malleus maupun reflex cahaya.
Kelainan gendangan yaitu :peradangan atau perforasi
Perforasi sentral : OMA (Otitis Media Acute) dapat menyebabkan tekanan pus di telinga tengah yang menyebabkan perforasi membrane tympani.bisa terjadi penyembuhan dan penutupan kembali membran. Namun dapat pula erjadi perforasi permanen .
Perforasi marginal  : perforasi dapat mengenai annulus di bagian posterior dan di sebut marginal.struktur telinga tengah biasanya dapat terlihat melalui perforas.
Kelainan lainnya :
Telinga tengah :
1. Otitis media: dapat tanpa efusi (cairan), dengan efusi, dengan perforasi, dengan mastoiditis/cholesteotoma: OMA,SOM,OMSK, dsh.
2. Disfungsi Tuba Eustachius.
3. Celah bibir dan langit-langit.
Keterangan :
OMA : Otitis media acute
SOM : Secretory Otitis Media
OMSK : Otitis Mesia Supra Kanal
2. Audiometry
Untuk memeriksa pendengaran, mengunakan nada murni karena mudah di ukur, mudah diterangkan dan mudah di kontrol. Penting bagi seorang audioetris di seluruh di dunia untuk mengetahui secara pasti besaran apakah yang ditunjukkan oleh frekuensi dan intensias. Perhatikanlah bahwa telinga paling peka terhadap nada menengah (middle range). Angka-angka tersebut di tetapkan berdasarkan nilai international standard association untuk pendengaran normal (I.S.O – 1964).
a. Menggunakan Audiometer
Putarlah switch power untuk melayakan audiometer. Output untuk memilih earphone (kiri atau kanan) atau Bone Frequency:  memilih tinggi nada atau frekuensi, Hearing Level: mengatur intensitas nada, Tone: menghidupkan – mematikan nada, Masking: memasang bunyi masking apabila di perlukan.
b. Teknik Pemeriksaan
Luangkanlah sedikit waktu sebelum melaksakana pemeriksaan. Apabila ia merasa bahwa saudara menaruh perhatian kepadanya, maka pasien tersebut akan lebih kooperatif. Saudara dapat mengetahui sejauh mana ia dapat berkomunikasi, tanyakan kepadanya, telinga manakah yang mendengar lebih jelas, telinga mana yang lebih sering digunakan untuk menelpon, apakah ia menderita tinnitus atau apakah ia tidak tahan terhadap suara keras.
c. Pemeriksaan Liang Telinga
Hanya untuk memastikan bahwa kanal tidak tersumbat.
d. Memeriksakan Instruksi
Berikan perintah yang sederhana dan jelas. Jelaskan bahwa akan terdengar serangkaian bunyi yang akan terdengar sebelah telinga. Pasien harus memberikan tanda dengan mengangkat tangannya atau memencet tombol yang dipegangnya bila setiap terdengar bunyi bagaimanapun lemahnya.segera setelah suara hilang , ia harus menurunkan tangannya kembali atau tidak mencer tombol.
e. Memasang Headphone
Bila pasien memakai kacamata atau giwang lepaskanlah, renggangkan Headphone lebar-lebar, pasanglah di kepalanya dengan benar, Earphone kanan di telinga kanan , kemudian kencangkan sehingga terasa nyaman di telinga. Penting di perhatikan agar memoral Earphone tepat di depan liang telinga di kedua sisi.
f. Seleksi Telinga
Mulailah dengan telinga yang lebih baik.
g. Urutan Frekuensi
Dimulai pada 1000 Hz, dimana pendengaran paling stabil, kemudian meningkat ke oktaf yang lebih tinggi dan akhirnya 500 dan 250 Hz. Ulangi tes pada 1000 Hz untuk menyakinkan sebelum beralih kepada telinga yang lain. Perubahan di atas 20 dB atau lebih diantara dua oktaf, memerlukan pemeriksaan setengah oktaf yaitu 1500 Hz, 3000 Hz atau 6000 Hz.
h. Posisi Pemeriksaan
Pasien duduk di kursi dan menghadap kearah 30 derajat dari posisi pemeriksa, sehingga ia tidak dapat melihat gerakan tangan tetapi pemeriksa dapat mengamatinya dengan bebas.
i. Pemberian Sinyal
Cara yang cepat untuk memperoleh intensitas awal adalah dengan menyusurnya melalui dari 0 dB sampai di peroleh respons. Matikan sinyal satu-dua detik, kemudian berikan lagi pada level yang sama. Bila ada respons, maka tes dapat di mulai pada intensitas tersebut. Turunkan intensitas secara bertahap 10 dB setiap kali sampai respons enghilang, kemudian naikkan 10 dB untuk mendapatkan respons, dan turunkan 5 dB untuk memperoleh ambang terendah, dimana sinyal terdengar 2 kali dari 3 kali perangsangan.nada harus diberikan selama 0,5 detik secara iregular.
j. Audiogram
Ambang pendengaran biasanya di rekam ke dalam suatu grafik yang di sebut audiogram, walaupun kadang–kadang ada yang menggunakan tabel. Serangkaian hasil audiotes yang di rekam kedalam sebuah progres audiogram dapat pula di gunakan. Undang-undang pabrik di Australia masyarakat agar audiogram di simpan untuk keperluan pengamatan priodik setiap 5 tahun sekali, maka sistem perekaman, penataan dan penyimpanan (filling) yang handal merupakan sudah menjadi kebutuhan yang utama.
Simbol-simbol internasional untuk audiometri telah di gunakan sejak 1964. Tetapi simbol ini tidak berlaku di amerika yang menggunakan simbol masking yang berlainan untuk air dan bone conduktion. Simbol hantaran udara non masking yang umum di gunakan adalah x untuk kiri dan o untuk kanan. Data dari telinga kiri di tulis dengan warna biru dan untuk kanan dengan warna merah,tetapi tidak mutlak. Apabila tidak di perbolehkan respon pada batas autput pada audiometer maka tertulisakan simbol yang sesuai dengan tambahan tanda panah kebawah.

Dampak Tuna Rungu

A. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Motorik
Anak Tunarungu yang tidak memiliki kecacatan lain dapat mencapai tugas-tugas perkembangan motorik seperti duduk, merangkak, berdiri, dan berjalan (Preisler, 1955). Namun demikian, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunarungu memiliki kesulitan dalam hal keseimbangan dan koordinasi gerak umum, dalam menyelesaikna tugas-tugas yang memerlukan kecepatan serta gerakan yang kompleks (Ityerah & Sharma, 1997).
Jika dibandingkan dengan anak normal, anak tunarungu pada usia 6-10 tahun tidak begitu terampil dalam melakukan gerakan koordinasi dinamik seperti berjalan maju-mundur pada papan yang sempit, meloncat dan melompat. Anak tunarungu juga tidak terampil dalam koordinasi visual motorik seperti merenda tali sepatu pada papan yang diberikan lubang.

B. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Perseptual
Penelitian Savelsberg (1991) menunjukkan bahwa ketika tersedia isyarat penglihatan dan pendengaran, anak normal memberikan respon lebih cepat dan lebih akurat daripada anak tunarungu. Diduga karena signal auditori menyediakan informasi tambahan yang tidak terdapat secara visual.
Hasil penelitian Quitnerr (1994) menunjukan bahwa pendengaran dapat mempengaruhi mekanisme visual. Pada penelitian ini ditemukan bahwa anak tunarungu berat usia 9-13 tahun yang telah mendapat operasi Cochlea menunjukkan performance sama seperti anak normal dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan pemusatan perhatian secara visual. Penelitian Savelsberg (1991) menunjukkan bahwa akses terhadap suara dapat meningkatkan kemampuan visual. Akan tetapi terdapat beberapa bukti hasil penelitian yang menjelaskan bahwa pengalaman juga dapat mempengaruhi kemampuan perceptual pada anak tunarungu.
Bellugi (1990) menemukan bahwa anak tunarungu yang diperkenalkan bahasa isyarat lebih baik dalam mengenal apa yang sedang dihadapi di bawah kondisi orientasi ruang yang berbeda-beda, dibandingkan dengan anak tunarungu yang tidak diperkenalkan dengan bahasa isyarat. Kompensasi perceptual tidak terjadi secara otomati, tetapi harus melalui latihan yang intensif. Terdapat dua faktor yang dapat menjelaskan temuan ini. Pertama, anak tunarungu sejak usia dini akan memusatkan perhatian kepada apa yang sedang dihadapinya untuk memahami apa yang sedang terjadi, sedangkan anak normal tidak selalu focus dengan apa yang sedang dihadapinya karena mereka dapat menerima informasi melalui saluran auditori. Kedua, belajar bahasa isyarat sejak usia dini dapat meningkatkan keterampila visual. Hal ini didukung oleh Emmorey (1993) yang menemukan bahwa tunarungu dewasa yang belajar bahasa isyarat memiliki imajinasi visual lebih baik daripada orang dewasa yang awas dan mendengar.

C. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Fungsi Kognitif
Piaget (1967) menjelaskan bahwa Inteligensi tergantung kepada tindakan anak di dalam lingkungan dan bertanggungjawab atas tindakannya sendiri. Melalui cara ini, anak mengkonstruksi pemahaman tentang lingkungan yang tercermin dalam inteligensi. Menurut Piaget, bahasa pada anak tergantung pada struktur Inteligensi. Apabila kognisi berkembang, maka bahasa anak akan berkembang yang menggambarkan adanya perubahan dalam pemahaman.
Caroll (1956) menjelaskan bahwa persepsi dan pengertian tentang dunia tergantung pada bahasa. Menurut Vygotsky, pikiran dan bahasa pada awalnya terpisah dan berkembang secara parallel sampai kira-kira usia 2 tahun. Pada saat itu pikiran dan bahasa mulai menyatu dan saling mempengaruhi satu sama lain, yang pada akhirnya bahasa dapat digunakan untuk berpikir dan pikiran akan tercermin dalam bahasa.

D. Dampak Tunarungu Terhadap Perkembangan Sosial dan Emosi
Anak tunarungu dengan orang tua dan tunarungu lainnya yang menggunakan isyarat berkomunikasi sama efektifnya dengan anak normal berkomunikasi dengan anak normal lainnya. Sebaliknya, anak tunarungu yang orang tuanya normal mengalami kesulitan dan tidak pernah mencapai cara yang efektif dalam berkomunikasi dengan orang normal.








Karakteristik Tuna Rungu

A. Karakteristik Kehidupan Sosial Emosional dan Daya Penyesuaian Diri Anak Tunarungu
Banyak anak tunarungu yang menghadapi persoalan dalam penyesuaian dirinya. Kita dapat melihat bahwa kehilangan pendengaran dapat menghambat penyesuaian diri, dapat dipahami bahwa anak tunarungu sering merasa terisolasi.
Tekanan-tekanan tidak jarang datang dari lingkungan keluarga dan teman sebaya seperti: ejekan, sikap tidak sabar, pemaksaan dan lain sebagainya yang kesamaannya itu cenderung untuk membuat anak merasa tidak aman, terancam atau malu. Kehilangan pendengaran yang parah dapat menimbulkan keraguan akan identitas diri sendiri. Kemungkinan pula dapat mengakibatkan kesulitan yang lebih parah seperti penolakan diri sendiri yang menyebabkan pengrusakan diri sendiri.
Sebaliknya, bukan saja anak tunarungu yang menderita karena kecacatannya, tetapi orang tua disekitarnya dapat terganggu dan terhambat.
Berhadapan dengan orang tuli (tunarungu), dapat menimbulkan kesalah pahaman karena para tunarungu sering salah sangka dan bersikap curiga pada orang lain. Tidak jarang karena frustasinya, anak tunarungu bersikap agresif terhadap orang lain dan dunia luar, sikap dimana dianggap menjengkelkan oleh orang lain. Kadang-kadang para tunarungu sangat sensitif akan reaksi orang lain yang menggambarkan proyeksi dari ketidaksempurnaan cara penyesuaian dirinya, atau gambaran dari keraguan diri sendiri.
Tunarungu menuntut orang lain agar memahami mereka dan memberikan toleransi yang lebih besar. Namun sementara itu, kita sering menemukan tunarungu yang kurang memiliki toleransi terhadap persoalan dan kekurangan orang lain. Pengamatan yang terakhir ini disokong oleh kenyataan bahwa kurangnya pendengaran telah mendorong para tunarungu untuk tenggelam dalam dunia yang sunyi, mengalami pro-okupasi (sibuk sendiri) dengan pikiran dan imajinasinya yang subjektif dan dengan demikian melupakan atau kurang peduli dengan kenyataan-kenyataan diluar dirinya. Mereka sering kali menjadi tidak sabar, bila dalam usahanya berkomunikasi, orang lain tidak segera menangkap maksudnya. Jadi yang bersikap tidak sabar bukan hanya orang lain, tetapi anak tunarungu  sendiri pun juga demikian.
Dari segi emosional, tunarungu biasanya adalah orang yang kesepian, dan justru karena ingin menghindari kesepian ia menuntut untuk memperoleh tempat dalam lingkungan sosial dimana ia dapat berdialog, memperoleh perhatian, kasih sayang dan lain sebagainya. Tunarungu dapat merasakan menjadi orang yang tidak disukai, ditolak atau orang yang memalukan. Namun perlu dicatat bahwa anak dengan derajat kehilanganyna pendengaran yang lunak, dapat menunjukan hambatan dalam pergaulan sosialnya.
Disamping itu kita pun dapat mengamati adanya anak tunarungu yang sering tidak terhambat apalagi merasa terisolasi, rupanya penderita tunarungu itu amat erat kaitannya dengan faktor-faktor lain disamping ketunarunguan itu sendiri. Faktor penting yang menentukan dalam pengembangan ketunarunguannya yaitu faktor lingkungan sosial dimana ia dibesarkan. Bila keluarganya bersikap seterosi, menilai anak  tunarungu sebagai anak bodoh dan terbelakang dalam berbagai hal, maka tidak mengherankan bila anak kemudian diasingkan dan diabaikan. Namun bila masyarakat umum maupun keluarga atau sekolah tetap mempercayai bahwa anak tunarungu tetap memiliki potensi untuk maju, maka perlakuannya yang diterima oleh para tunarungu tentu akan lebih positif dan bersifat mendorong. Perlakuannya yang wajar atasi kenyataan pahit bahwa ia mempunyai cacat.
Perasaan pahit karena menyandang cacat dapat dikurangi bila anak diberitahu bahwa ia memiliki beberapa potensi lain yang tidak bercacat seperti: kondisi fisik, mental maupun spiritual. Bila bagi mereka tersedia kemungkinan untuk mengembangkan diri sesuai potensi dirinya yang tersedia. Problematika penyesuaian diri sosial seperti yang digambarkan diatas dapat dikurangi. Anak tunarungu akan dapat mencerminkan kecacatannya dan dirinya sendiri bila lingkugannya mau menerima mereka.

B. Ciri-ciri Anak Tunarungu
Berikut ini dijelaskan ciri-ciri khas anak tunarungu meskipun sifatnya kompleks, karena adanya saling berkaitan. Ciri–ciri khusus ini sangat penting untuk diketahui dan dihayati para calon guru maupun mendidik ataupun kegiatan segi fisik:
1. Ciri-ciri khas dalam segi fisik
Cara berjalan biasanya cepat dan agak membugkuk. Hal ini disebabkan adanya kemugkinan kerusakan pada alat pendengaran bagian keseimbangan.
Gerakan matanya cepat, agak beringas. Hal ini menunjukan ia ingin menangkap keadaan sekitarnya sehingga anak tunarungu dapat disebut manusia pemata.
Gerakan anggota badannya cepat dan lincah. Hal tersebut terlihat saat mengadakan komunikasi yang cenderung menggunakan gerak isyarat dengan orang yang ada disekitarnya, dapat dikatakan pula bahwa anak tunarungu adalah manusia motorik.
Pada waktu bicara pernafasan pendek dan agak terganggu. Hal ini terjadi karena pernafasan tidak terlatih.

2. Ciri-ciri khas dalam Intelegensi
Intelegensi merupakan motorik dari perkembangan mental seseorang. Anak tunarungu dalam intelegensi tidak banyak berbeda dengan anak normal pada umumnya. Ada yang memiliki intelegensi tinggi, rata-rata, dan ada pula yang memang intelegensinya rendah. Sesuai dengan sifat ketunaan pada umumnya anak tunarungu sukar menangkap pengertian-pengertian yang abstrak, sebab dalam hal ini diperlukan pemahaman yang baik akan bahasa lisan maupun tulisan, sehingga pada umumnya anak tunarungu dalam hal intelegensi potensial tidak berbeda dengan anak norma pada umumnya, tetapi dalam hal intelegensi fungsionalnya rata-rata rendah.

3. Ciri –ciri khas dalam segi emosi
Kekurangan pemahaman akan bahasa atau tulisan dalam berkomunikasi seringkali menimbukan hal-hal yang tidak diinginkan. Sering menimbulkan kesalahan yang dapat mengakibatkan hal yang negatif dan menimbulkan tekanan pada emosinya. Tekanan emosi ini dapat meghambat perkembangan kepribadiannya dengan menampilkan sikap menutup diri, bertindak secara agresif atau sebaliknya, menampakan kebimbangan dan keragu-raguan. Emosi  anak tunarungu tidak stabil.

4. Ciri-ciri khas segi sosial
Dalam kehidupan sosial anak tunarungu mempunyai kebutuhan yang sama dengan anak biasa pada umumnya, mereka memerlukan interaksi antara anak tunarungu dengan sekitarnya. Interaksi antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, dengan keluarga, dan dengan lingkungan masyarakat yang lebih luas. Perlakuan yang kurang wajar dari anggota keluarga atau anggota masyarakat yang berbeda disekitarnya dapat menimbulkan beberapa aspek negatif seperti:
Perasaan rendah diri dan merasa diasingkan oleh keluarga.
Perasaan cemburu dengan kasih sayang dan merasa diperlakukan tidak adil.
Kurang dapat bergaul, mudah marah dan berlaku agresif atau sebaliknya.
Akibat yang lain dapat menimbulkan cepat merasa bosan tidak tahan berfikir lama.

5. Ciri-ciri dalam segi bahasa
Sesuai dengan kekurangan atau kelainan yang disandangnya, anak tunarungu dalam penggunaan bahasa mempunyai ciri-ciri:
Miskin dalam kosa kata.
Sulit mengartikan ungkapan-ungkapan bahasa yang mengandung irama dan gaya bahasa.
Meskipun demikian sesuai dengan kemampuannya, pelajaran bahasa perlu diajarkan dengan sebaik-baiknya, apalagi komunikasi modern sangat memerlukan penguasaan bahasa yang baik secara aktif maupun pasif. Maortodidaktif diharapkan dapat memecahkan persoalan ini, dapat mendorong terjadinya pembentukan sikap tunarungu menjadi sikap yang wajar dalam usaha mengadakan penyesuaian dengan lingkungan hidupnya sehari-hari
Selanjutnya anak tunarungu menurut derajat atau tingkatan pendengaran dapat diklasifikasikan atau digologkan tuli dan kurang mendengar. Sehingga akibat dari ketunarunguannya itu anak mengalami perkembangan kepribadian. Perkembangan kepribadian dapat terjadi dalam pergaulan atau pengalaman-pengalaman umum yang diarahkan oleh faktor anak itu sendiri. Ketidakmampuan anak menerima rangsangan pendengaran mengakibatkan kemiskinan berbicara.
Ketidaktetapan emosi dan keterlambatan perkembangan pengetahuan dapat dihubungkan dengan sikap lingkungan terhadap anak yang akan mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Seorang anak tunarungu berusaha mengadakan kontak dengan orang lain. Tetapi sering ditertawakan sehingga menyebabkan anak segan berlatih berbicara, segan berkomunikasi dan dapat menimbulkan perasaan malu, merasa selalu bersalah, takut menatap.

C. Karakteristik Kecerdasan Anak Tunarungu
Hilangnya atau berkurangnya kemampuan mendengar mengakibatkan kekurangan dalam penerimaan sumber informasi melalui pendengaran, hal ini sangat berpengaruh dalam kemampuan visual anak tunarungu. Namun secara umum kemampuan intelegensi (IQ) anak tunarungu tidak berbeda dengan anak-anak normal, hanya saja IQ verbal akan lebih rendah dari IQ performancenya.

D. Karakteristik  Bahasa dan Bicara Anak Tunarungu
Anak-anak tunarungu mempunyai karakteristik yang berbeda dengan anak normal, Anak tunarungu pada umumnya memiliki keterlambatan dalam perkembangan bahasa bila dibandingkan dengan perkembangan bicara anak-anak normal, bahkan bagi anak tunarungu total cenderung tidak bisa bicara total (bisu).




Klasifikasi Tuna Rungu

A. Berdasarkan Bagian Alat Pendengaran yang Mengalami Kerusakan
Berdasarkan bagian kerusakan alat pendengaran dapat di bagi menjadi 3 macam yaitu :
- Tuna Rungu Konduktif
Adalah kelainan pada telinga luar dan dalamnya. Getaran – getaran udara tidak dapat ditangkap oleh gendang telinga dan getaran suara tidak dapat mencapai syarat pendengaran.
- Tuna Rungu Perspective
Adalah kelainan pada alat pendengaran telinga bagian dalam sehingga serabut – serabut syaraf tidak dapat berfungsi normal.
- Gejala Tuna Rungu Campuran
Adalah kelainan pada alat pendengaran baik luar maupun dalam.

B. Berdasarkan Bentuk Kelainan Pendengaran
Menurut Samuel A.Kirk dalam bukunya yang berjudul Educating Exceptional Children, kelainan dapat terjadi dalam beberapa bentuk yang berbeda yaitu :
- Conductive Losses
Adalah seseorang yang kehilangan intensitas pencapaian suara, telinga bagian tengah saat mulainya getaran syaraf pendengaran. Deretan getaran – getaran dapat terhalangi dan terhambat saat pencapaian suara syaraf.
- Sensory Neural or Perspektive Losses
Hal ini disebabkan kelainan telinga bagian dalam atau pada pengiriman syaraf pendengaran yang merangsang menuju ke otak. Kehilangan indra syaraf pendengaran mungkin semua atau sebagian, dan dapat mempengaruhi beberapa frekuensi yang besar daripada yang lain.

- Central Deafness
Kelainan dimana kondisi suara seseorang dapat didengar, tetapi tidak mampu untuk menafsirkannya.
C. Berdasarkan Gradasi / Tingkatan Gangguan Pendengaran
Streng mengklasifikasikan gradasi gangguan pendengaran sebagai berikut:
- Children with mild losses are those who have a 20 to 30 db loss in the better car in the speech range.
Ciri – ciri :
a) Kemampuan dengarnya masih baik, digaris batas (border line) antara pendengaran normal dan kelainan pendengaran yang ringan.
b) Tidak mendapatkan kesukaran dalam percakapan umum.
c) Dapat mengikuti sekolah umum dengan syarat duduk di muka dekat guru.
d) Disarankan memakai hearing aid untuk meningkatkan kemampuan dengarnya.
- Children with marginal losses are those who have hearing losses of 30 to 40 db
Ciri – ciri :
a) Mengerti percakapan biasa pada jarak dekat.
b) Kurang dapat menangkap percakapan yang lemah.
c) Jika pembicara terlihat, mereka sukar menangkap isi pembicaraan.
d) Kalau tidak mendapatkan bimbingan yang baik, mereka akan mengalami kelainan bicara.
e) Disarankan memakai hearing aid untuk mencegah perkembangan bahasa dan bicara yang kurang baik.

- Children with moderate losses are those with 40 to 60 db losses
Ciri – ciri :
a) Mengerti percakapan yang keras dalam jarak dekat.
b) Tidak dapat mendengar bisik – bisik atau detik jam.
c) Jika diajak berbica seringkali salah pengertian.
d) Kekayaan bahasa terbatas.
e) Dapat mengerti dengan baik jika daya dengar dibantu dengan daya penglihatan dan suara lawan bicara diperkeras.
f) Harus masuk SLB B dan harus ada perlakuan khusus dalam memperkaya bahasa. Dilatih menggunakan bahasa secara baik dan belajar membaca dan menulis secara continue.
- Children with severe losses are those having hearing losses of 60 to 75 db
Ciri – ciri :
a) Perkembangan bicara dan bahasa tidak tumbuh secara spontan.
b) Kualitas suara dapat dilatih dengan baik.
c) Terletak antara garis batas antara sulit menerima didikan yang disampaikan dengan lisan dan keadaan tunarungu berat.
d) Perlu memakai hearing aid.
e) Memerlukan metode khusus dalam mengajar bicara, sebab mereka sudah termasuk anak tuli.
- Children with profound losses are those with hearing losses greater than 75 db
Ciri – ciri :
a) Tidak menyadari ada bunyi yang keras. Mungkin ada reaksi kalau didekatkan di telinganya.
b) Bahasa dan bicaranya tidak tumbuh dan tidak berkembang secara spontan.
c) Harus belajar bunyi bahasa, dan harus masuk sekolah luar biasa bagian B.
d) Pemakaian hearing aid kurang berarti karena mengalami kurang pendengaran yang berat, tetapi ada manfaatnya dapat menangkap suara – suara keras, seperti tuter mobil.
e) Memerlukan metode khusus dalam mengajar bahasa.

Menurut Moh Yamin dam kawan – kawan yang dituliskan dalam buku Pedoman Praktis Penyelenggaraan Sekolah Luar Biasa B Tunarungu–wicara, membagi tingkat gangguan sebagai berikut :
- Tuna rungu sangat ringan ( 0-25 dB )
a) Penderita kelihatan normal pendengarannya.
b) Dapat mengikuti sekolah biasa.
c) Dapat mengontrol ritme, tekanan, kecepatan dengan baik.
d) Mimik normal.
- Tuna rungu ringan (30-40 dB )
a) Lip reading dan speech reading dikerjakan dengan baik.
b) Sedikit mengalami kesulitan dalam menangkap pembicaraan tanpa melihat pembicara.
c) Daya pemahaman bahasa dapat diperbaiki dengan memakai hearing aid.
- Tuna rungu sedang ( 40-60 dB )
a) Hanya dapat menangkap pembicaraan melalui pendengarannya kalau suara diperkeras.
b) Daya tangkap dan daya pengertian terhadap bahasa akan lebih baik lagi, jika daya dengar dibantu oleh penglihatan.
c) Peranan hearing aid dalam lip reading dan speech reading sangat penting.
- Tuna rungu berat ( 60-70 dB )
a) Kualitas suara masih dapat diperbaiki dengan latihan – latihan dan memakai hearing aid.
b) Sebelum mendapatkan pendidikan khusus akan mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
- Tuli dan tuli berat ( 70 dB dan lebih parah )
a) Tidak dapat menangkap bahasa lisan walaupun memakai hearing aid.
b) Pemakaian hearing aid tetap berguna untuk keamanan dirinya sehingga terhindar dari kecelakaan.
- Total deafness
Jarang terjadi dalam masyarakat.

D. Berdasarkan Etiologis, Anatomis, Dan Fisiologis Ukuran Nada yang Dapat Didengar ( Emon Sastro Winoto )
a) Klasifikasi etiologis
Secara etiologis tuna rungu dapat dibedakan menjadi :
- Tunarungu endogen
Yaitu tunarungu-wicara/tunarungu yang diturunkan dari orang tuanya atau bawaan.
- Tunarungu eksogen
Yaitu tunarungu yang disebabkan karena suatu penyakit atau kecelakaan.
b) Klasifikasi anatomis – fisiologis
Secara anatomis – fisiologis anak tunarungu dapat dibedakan menjadi:
- Tunarungu hantaran (konduktif)
Yaitu tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya otot – otot penghantar getaran pada telinga tengah.
- Tunarungu perspektif (syaraf)
Tunarungu yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya alat–alat pendengaran pada telinga dalam, sehingga tidak dapat meneruskan rangsangan ke pusat pendengaran.
c) Klasifikasi menurut ukuran nada yang tidak dapat didengar
Jika seseorang tidak dapat mendengar nada yang rendah, dan jika tidak dapat mendengar nada rendah maupun nada tinggi, maka disebut tunarungu total.


E. Berdasarkan Sifat dan Cara Rehabilitasi
Prof Dr Soewito FK–UGM, dalam makalahnya “pengembangan pola pelayanan penderita tunarungu secara profesional dan terpadu di Indonesia, mengemukakan bahwa: pada garis besarnya jenis ketulian dapat dibagi dalam 3 kategori dengan sifat–sifat dan cara rehabilitasinya masing masing”
Adapun penjelasannya sebagai berikut:
1) Tuli konduksi
- Kerusakan: terjadi pada rantai pendengaran yang meneruskan dan memperkuat getaran suara (saluran telinga luar gendang telinga–tulang pendengaran).
- Derajat ketulian: ringan sampai sedang.
- Sifat ketulian: kualitas suara berkurang, kualitas suara tetap baik.
- Rehabilitasi: medis operatif dari ahli THT ABD.
2) Tuli persepsi (syaraf)
- Kerusakan: terjadi pada respektor dan atau syaraf pendengaran.
- Derajat ketulian: ringan sedang berat total.
- Sifat ketulian: kuantitas suara hilang/berkurang.
- Rehabilitasi: non medis, latihan mendengar dan membaca bibir dalam ABD.
3) Tuli campuran keduanya
- Sifat ketulian: sama dengan tuli syaraf.
- Rehabilitasi: non medis sesuai dengan tuli syaraf.

F. Jenis Ketunarunguan serta Kemampuan Mengerti Bicara dan Bahasa
a. 10-20 db (normal), tidak ada hubungan dengan gangguan bahasa.
b. 20-35 db (mild), tidak ada hubungan dengan gangguan bahasa. Tapi mungkin perkembangan bahasa terlambat.
c. 35-55 db (mild to moderate), ada beberapa kesulitan artikulasi, perkembangan kata mungkin tidak sempurna.
d. 55-70 db (moderate), artikulasi dan suara tidak baik dan pembendaharaan kata tidak sempurna.
e. 70-90 db (severe), artikulasi dan kualitas suara tidak baik, kalimat dan aspek-aspek bahasa tidak sempurna.
f. 90 db atau lebih (severe to profound), ritme suara, suara, dan artikulasi tidak baik. Bicara, bahasa harus dikembangkan secara intensif dan seksama.
g. 100 db lebih (profound), sangat perlu bantuan tentang keberadaan pendengarannya, tapi tidak perlu bantuan pengembangan bicara melalui pendengaran.


Faktor Penyebab Tuna Rungu

A. Anak Menjadi Tunarungu
Faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi tunarungu atau kelaian pendengaran dapat terjadi :
1. Sebelum anak dilahirkan/masih dalam kandungan (masa prenatal), yaitu :
Bawaan (keturunan/genetik) :
a. Tunarungu sejak lahir yang disebabkan oleh gen ketunarunguan yang diturunkan dari orang tua  kepada anaknya.
b. Indra pendengaran sudah tidak berfungsi di kehidupan sehari-hari.
Non genetik :
a. Rubella campak jerman, yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus yang berbahaya dan sulit didiagnosis secara klinis. Penyakit ini berbahaya bagi ibu hamil, terutama pada usia janin tri semester (3 bulan) karena dapat menimbulkan kelainan pada janin. Virus tersebut dapat membunuh pertumbuhan sel–sel dan menyerang jaringan pada mata, telinga, dan atau organ lainnya.
b. Terjadi toxamia (keracunan darah), pada saat mengandung, Ibu menderita keracunan darah (toxaemia).  Hal ini mengakibatkan placenta (ari–ari) menjadi rusak. Hal ini sangat berpengaruh pada janin, sehingga anak yang dilahirkan akan menjadi tunarungu.
c. Pengguna pil kina atau obat-obatan dalam jumlah besar,  dengan tujuan untuk menggugurkan kandungannya, tetapi ternyata kandungannya tidak gugur. Hal ini mengakibatkan ketunarunguan pada anak yang dilahirkan, yaitu kerusakan cochlea (rumah siput).
d. Kelahiran prematur, bayi yang dilahirkan prematur berat badannya dibawah normal, jaringan tubuhnya lemah dan mudah terserang anoxia (kurang oksigen). Hal ini merusak fungsi Cochlea sehingga anak yang dilahirkan menderita tunarungu. Kekurangan oksigen juga mengakibatkan kerusakan pada inti brain stem, yang mengakibatkan anak tunarungu atau kekurangan pendengaran pada taraf ringan atau tingkat berat.


2. Pada waktu proses kelahiran atau baru dilahirkan (masa neo natal).
Anak lahir dengan bantuan Forcep (alat bantu tang)
Untuk mengatasi kelahiran yang sulit, dokter biasanya menggunakan Forcep (alat bantu tang). Cara kelahiran semacam ini dapat berhasil, tetapi dapat berbahaya yaitu karena jepitan Forcep yang kuat akan mengenai bagian kepala yang dapat menyebabkan kerusakan syaraf pendengaran.
3. Sesudah anak dilahirkan.
Meningitis, yaitu radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang Labyrith (telinga dalam) melalui system sel-sel udara pada telinga.
Trauma akustik, yang disebabkan oleh adanya suara bising dalam waktu yang lama (misalnya suara mesin di pabrik).
Ototis media yang kronis, dimana cairan yang kekuning-kuningan menyebabkan kehilangan pendengaran secara konduktif. Bila dibedakan dengan penderita Secretary Ototis media terletak pada cairannya.
Yaitu: cairan dapat mengental dan menyumbat rongga telinga bagian tengah. Akibatnya: terjadilah pembesaran adenoid (dalam tenggorokan), simusitas (dalam hidung) dan terjadilah alergi pada pernafasan.
Terjadi infeksi pada alat-alat pernafasa, Misalnya pembesaran tougil adenoid yang dapat menyebabkan tunarungu konduktif yaitu media penghantar suara tidak berfungsi normal.

Minggu, 24 November 2013

Sejarah Tuna Rungu

Pada jaman dahulu anak tunarungu dan anak terbelakang mental (tunamental) sulit di bedakan, karena kedua–duanya sulit di ajak bicara. Orang yang mengajar murid tuli (tunarungu berat) yang pertama adalah Pedro Ponce Deleon. Dia seorang biarawan di St. Bendedict (Spanyol, 1520–1584 Masehi).
Dialah yang melopori pendidikan anak tunarungu dengan mendidik anak tunarungu keturunan bangsawan pada abad XVI (16), ia membuktikan bahwa anak tuna rungu dapat diajari bicara dan menulis. Alfabet pertama lahir pada tahun 1620 atas usaha Plablo Bonet. Oleh Bonet dijelaskan bahwa dalam pengajarannya juga terdapat pelajaran Artikulasi seperti apa yang diberikan di Indonesia sekarang ini. Selajutnya Alfabet dari Plablo Bonet tersebut berupa abjad yang terdiri dari isyarat tangan. Kemudian dilanjutkan oleh Jacob Rodrigues Pereier dengan mengembangkan bahasa isyarat dengan mempergunakan tangan. Selain itu juga dikembangkan metode lain yang disebut metode bibir atau metode oral.
Pada abad XVII (17) John Bulwere dan John Wallis di Inggris memulai pendidikan dan pengajaran anak tunarungu dengan metode isyarat, sedangkan di negeri Belanda dirintis oleh John Amman (1692). Dalam pembelajaran bahasa ia menulis antara lain jika murid-muridnya mulai membaca dan dapat mengerti maksudnya, dia memperlakukan mereka seperti anak yang baru lahir, yang sama sekali belum mengetahui apa-apa, mula-mula dia ajarkan nama-nama benda yang mereka kenal dan perlu sedikit demi sedikit sesudah dia tunjukkan dengan isyarat dimana dia rasakan betul.
Kemudian abad ke XVIII (18) muncullah seorang Paderi di Paris, Abbede L’eppee (1712 – 1789) nama lengkapnya Abbe Charles Michel De L’eppee (Perancis). Dia membuka sekolah pertama untuk orang tuli pada tahun 1775 . selanjutnya ia mengatakan bahwa bahasa isyarat adalah bahasa pembawaan anak tunarungu sejak lahir, mengajarkan bercakap terlalu banyak membuang waktu atau menghabiskan waktu, maka dari itu waktu dipergunakan untuk lebih memajukan perkembangan kecerdasan murid-muridnya dengan bahasa isyarat. Metode isyarat yang dikembangkan oleh Abbe De L’eppee di Perancis tersebut mencoba semua pengertian diisyaratkan dari semua isyarat itu, di coba digambarkan menjadi tanda-tanda gambar, sehingga isyarat yang sederhana saja sudah membutuhkan 3000 hingga 4000 buah tanda gambar. Maka timbulah abjad jari (Fingue Alphabet) yang mula mula menggunakan dua tangan kemudian disederhanakan menjadi abjad jari satu tangan, sehingga dia terkenal dengan sebutan tokoh metode isyarat (alican Perancis atau manualisme).
Selanjutnya bersamaan dengan periode itu Samuel Heinicke di Jerman mengembangkan metode oral, mulai itulah terjadi liran Jerman (aliran oralisme). Metode ini bertitik tolak dari pandangan bahwa anak tuli (anak tunarungu berat)  memiliki potensial untuk berbicara dan dapat diajak bicara dengan baik. Pandangan ini didukung adanya kebutuhan anak tuli (anak tunarungu berat) untuk :
1.      Diakui sebagai anggota masyarakat seperti halnya anak-anak normal.
2.      Mendapat kesempatan pribadi (memperoleh pengakuan harga diri).
3.      Menyesuaikan diri dalam sosial dari vocational.
Keuntungan metode oral bagi anak tuli  (tunarungu) adalah sebagai berikut:
a.       Dengan latihan berbicara akan memberikan penjelasan yang lebih mudah ke dunia sekitarnya, sehingga memperoleh penyesuaian dan sekaligus menghindarkan anak tuli (tunarungu) dari perasaan terisolir dan tekanan batin.
b.      Bicara merupakan media komunikasi bersifat universal.
c.       Pergaulan anak tuli (tunarungu) tidak terbatas pada dunia anak tuli (tunarungu) yang berisyarat saja.
d.      Anak normal pun akan lebih mudah bergaul dengan anak tuli (tunarungu) yang berbicara.
e.       Oralisme menitikberatkan pada kebutuhan berpartisipasi dalam dunia normal.
Kemudian secara bersama-sama aliran manualisme dan oralisme berkembang ke Amerika, Manualisme dikembangkan oleh Galaudet atas pengaruh belajar di Paris Perancis, sedangkan Oralisme dikembangkan oleh Alexander Graham Bell yang kemudian menemukan alat telepon yang ternama dengan mengembangkan pemakaian alat Bantu Dengar (Hearing Aid) serta pengeras suara. Maka timbulah satuan ukuran pendengaran seseorang yang disebut deciBell (dB). Dan di Inggris dikembangkan oleh Thomas Braidwood.
Di Indonesia pendidikan anak tunarungu dimulai di Bandung Jawa Barat, sekitar tahun 1930 dan beberapa tahun kemudian didirikan sekolah luar biasa B (SLB bagian B) di Wonosobo Jawa Tengah dan sekarang ini telah tersebar di seluruh tanah air Indonesia dan kebanyakan diselenggarakan oleh pihak swasta berupa yayasan. Di Bali terdapat sekolah pembina tingkat nasional dan di Subang ada sekolah pembina luar biasa B tingkat Provinsi. Mengenai sistem pendidikan di Indonesia umumya mempergunakan metode membaca ajaran bibir (lip reading) namun sejak beberapa tahun di SLB/B kota Jakarta khususnya, SLB/B Zinnia dan di Surabaya SLB/B karya Mulya telah dimulai dengan komunikasi total (total communication). Adapun pengertian komunikasi total menurut Edward Miner Gollandet (1837 – 1902) dalam buku  A World Of Language For Dear Children sebagai combined system and combined method yaitu a combined of signs, finger spelling and speech.
Jadi merupakan kombinasi isyarat, ejaan jari dan bicara. Komunikasi total ini akan dikembangkan di SLB/B seluruh Indonesia dengan dilakukannya kamus sistem isyarat bahasa Indonesia sebagai komponen komunikasi total pada tanggal 2 Mei 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Prof. Ar. Ing. Wardiman Djojonegoro.
Selama ini belum terselenggara pendidikan terpadu secara resmi, meskipun sudah banyak anak-anak tunarungu yang berhasil duduk di bangku sekolah SMTP, SMTA, maupun Perguruan Tinggi. Pendidikan anak tunarungu telah dimulai pada usia yang sangat dini yakni pada usia 2 tahun atau pada usia dimana anak telah dapat berjalan.
Adapun tujuan pendidikan sedini mungkin diterapkan agar sisa pendengaran dapat dipertahankan dengan pemberian rangsangan atau stimulasi. Diharapkan anak dapat mengembangkan bicaranya (tidak bisu), sehingga hanya menjadi anak tunarungu dan tidak menjadi anak tunawicara.